Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Ketiga)

Di bagian ketiga tulisan saya tentang makna amparan ini, saya akan mempertajam tentang dasar keilmuan. Namun sebelumnya, saya akan perdalam lagi makna amparan yang saya maknakan sebagai dasar. Ini untuk menjawab, barangkali saja ada yang bertanya, kemana larinya imbuhan “an” dari kata amparan tersebut?

Saya ulas kembali, kata amparan berasal dari kata ampar yang diberi imbuhan “an”. Kata ampar dalam bahasa Indonesia bermakna alas, sementara alas itu merupakan bagian terbawah dari sesuatu yang berada di atasnya. Sehingga kemudian alas tersebut saya maknakan sebagai dasar. Jika ingin diberikan imbuhan “an” terhadap kata dasar, bisa saja, sehingga menjadi dasaran. Namun, kata dasar yang diberikan imbuhan “an”, terdengar rancu di telinga, oleh karenanya saya cari kata sepadan yang bisa diberikan imbuhan “an”. Saya temukan kata landas, yang juga bermakna dasar, yang mana kata landas tersebut jika diberi imbuhan “an”, maka menjadi landasan.

Dari kata landasan, yang sepadan dengan kata amparan, maka saya bedah kembali dasar yang kedua yang telah saya bedah pada bagian kedua.

Telah saya sebutkan, selain dasar keyakinan dan dasar keimanan yang saya golongkan pada dasar yang pertama, dasar yang kedua adalah dasar keilmuan. Dan telah saya ulas pula, bahwa dasar keilmuan itu mencakup berbagai disiplin ilmu, baik ilmu keagamaan, sosial, budaya, sains, dan lain sebagainya. Dari berbagai disiplin ilmu tersebut, harus dipakai secara sinergis, atau digabung secara sinergis. Bagaimana bisa digabungkan berbagai disiplin ilmu itu secara sinergis? Jawabannya adalah memakai landasan. Landasan apa? Landasan berpikir.

Istilah landasan berpikir ini banyak dijumpai di tulisan atau karya-karya ilmiah, dimana dalam metode pembedahan ilmiah, harus memakai landasan berpikir yang ilmiah pula. Untuk menghasilkan atau menemukan suatu karya ilmiah, maka landasan berpikir tersebut harus diproses secara ilmiah, maka kemudian dipakailah metode ilmiah. Sehingga, untuk ditemukannya bukti-bukti Pajajaran, harus memakai landasan berpikir dan metode ilmiah, agar penemuan-penemuan tersebut tidak diragukan di masyarakat modern sekarang ini, dan bisa diakui secara menyeluruh.

Wallahu a’lam bishowab

Dibedah oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on Agustus 2, 2016, in 8. Lain-Lain. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: