Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kesatu)

Bagi yang sudah mengenal Uga Wangsit Siliwangi, tentu tidak asing lagi dengan bait berikut:

“Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit ngaranna. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti nu kari, bakal réa nu malungkir ! Tapi, éngké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya nu laleungit kapanggih deui, nya bisa, ngan mapayna kudu make amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu aing pangpinterna. Mudu arédan heula”.

“Mulai hari ini, Pajajaran hilang dari alam kehidupan. Hilang kotanya, hilang namanya. Pajajaran tidak akan menyisakan jejak, kecuali nama bagi yang menelusuri. Sebab bukti yang ada, akan banyak yang memungkiri! Tapi, nanti akan ada yang mencoba-coba, supaya yang hilang ditemukan kembali, ya bisa, tapi menelusurinya (mencarinya) harus memakai “amparan”. Tapi yang menelusurinya banyak yang merasa saya paling pintar. Keburu gila duluan”

Sebelum saya bedah, saya jelaskan dulu apa itu Uga Wangsit Siliwangi. Uga Wangsit Siliwangi adalah cerita pantun yang menceritakan tentang Prabu Siliwangi di hadapan balatentaranya, sebelum Prabu Siliwangi “ngahiyang”. Ngahiyang adalah suatu istilah bagi seseorang yang menghilang tanpa bekas. Istilah ini identik seperti “moksa”. Perihal istilah “wangsit”, “ngahiyang”, dan “moksa”, saya tidak ingin berpolemik terhadap keyakinan anda. Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh pembedahan pada tulisan ini, silahkan teruskan membaca. Bagi yang terganjal istilah-istilah di atas yang mengusik keyakinan anda, silahkan dihentikan membacanya. Maka cukuplah anda mengetahui cangkangnya saja.

Isi uga ini menceritakan berbagai macam situasi dan kondisi yang akan terjadi, tidak hanya pada tatar Sunda yang menjadi tempat berkuasanya Prabu Siliwangi, tapi juga situasi dan kondisi Nusantara, setelah Prabu Siliwangi “ngahiyang”. Dari bait-baitnya, hampir 90% memang menggambarkan kondisi yang akan dan sudah dialami bangsa Indonesia, padahal berkuasanya Prabu Siliwangi sampai “ngahiyang” yaitu tahun 1482-1521 Masehi.

Perlu saya tegaskan, bahwa Prabu Siliwangi yang dimaksud di sini adalah Prabu Siliwangi yang mempunyai sebutan lain; Raden Pamanah Rasa, atau Sri Baduga Maharaja. Bukan Prabu Wangi Linggabuana, yang gugur di medan Bubat.

Isi uga ini sebetulnya sangatlah panjang, namun saya hanya memenggal sebait saja dari sederet isi uga tersebut. Penggalan atau potongan bait tersebut seperti yang telah saya tulis di atas. Alasan saya membedah penggalan bait tersebut adalah, karena adanya kata kunci yang konon bisa memberikan bukti-bukti akan kerajaan Pajajaran. Sementara kita ketahui, bahwa kerajaan Pajajaran, adalah kerajaan yang sulit ditemukan bukti-buktinya, baik itu pusat pemerintahannya (kotanya) maupun situs-situs peninggalannya, tidak seperti kerajaan-kerajaan lain yang ada di Nusantara. Menurut bait tersebut pula, bisa saja menemukan bukti-bukti tentang pajajaran, tapi mencarinya (menelusurinya) harus dengan “amparan”. Nah, kata “amparan” inilah yang sekarang ingin saya bedah, karena merupakan kata kunci ditemukannya bukti-bukti peninggalan Pajajaran.

“Amparan”. Berasal dari kata “ampar”. Ampar adalah kata yang berasal dari bahasa Sunda. Dalam bahasa Indonesia, ampar ini berarti alas. Alas adalah lapisan paling bawah, atau bagian paling bawah yang mendasari sesuatu yang berada di atasnya. Maka, alas ini kemudian bisa dikatakan sebagai dasar. Sehingga, kata ampar ini kemudian bermakna dasar. Ketika kita sudah menemukan makna dari kata ampar yaitu dasar, sudah terlihat kiranya apa maksud dari bait di atas. Bahwa untuk mencari atau menelusuri Pajajaran, harus memakai dasar. Yang menjadi pertanyaan adalah, dasar apa?

Perlu saya utarakan, kata “amparan” juga bermakna sangat luas, menyangkut berbagai aspek yang mendasari segala sesuatu. Ada yang memaknai amparan ini dengan langsung menyebut benda yang bisa dijadikan alas (semacam sajadah). Sah-sah saja saya pikir, namun, pemaknaan langsung terhadap suatu benda, akan mempersempit makna dari “amparan” yang bermakna luas itu. Meskipun memang, sajadah juga bisa cukup luas pemaknaannya, jika ditinjau dari keyakinan Muslim.

Berlanjut ke bagian kedua

Posted on Juli 30, 2016, in 8. Lain-Lain. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. My family all the time say that I am killing my time here at web, however I know I am getting know-how everyday by reading such pleasant articles or reviews.|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: