Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kedua)

Disini, saya berusaha tetap memperluas makna dari “amparan” tersebut. Dan telah saya maknai bahwa makna dari ampar atau amparan adalah dasar. Untuk menjaga keluasan maknanya, maka saya tidak memaknainya terhadap benda tertentu.

Setidaknya, ada dua makna yang bisa dijadikan sandaran untuk memaknai kata “amparan” atau “dasar”.

Pertama. “amparan” atau dasar di sana bisa dirujukkan kepada dasar keyakinan atau dasar keimanan. Artinya, yang ingin menelusuri bukti-bukti tentang Pajajaran, maka ia harus mempunyai dasar keyakinan dan keimanan. Keyakinan akan kerajaan Pajajaran yang dahulu memang pernah ada, namun hilang, dan keyakinan akan ditemukan kembali bukti-buktinya. Sebab dalam bait lainnya, bahwa Pajajaran itu akan berdiri kembali, tapi bukan Pajajaran tempo dulu, melainkan Pajajaran yang sekarang.

“Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obahna jaman”

“Bukan Pajajaran yang sekarang (waktu Prabu Siliwangi akan ngahiyang), tapi Pajajaran yang baru, yang berdirinya dibangun oleh perubahan jaman”.

Sementara dasar keimanan, lagi-lagi saya tidak ingin berpolemik tentang kata “ngahiyang”. Namun, sedikit saja, bahwa umat muslim tentu mengimani tentang Nabi Isa a.s. yang tidak dimatikan oleh Allah, melainkan ia diangkat ke langit, dan akan diturunkan kembali di akhir jaman. Peristiwa tersebut Itu, sebetulnya merupakan contoh atau gambaran atau keidentikkan dengan kata “ngahiyang” menurut saya. Sementara, peristiwa-persitiwa di dalam Islam, tentang tidak disebutkan secara jelas apakah seseorang itu meninggal atau tidak, itu ada permodelan-permodelan lainnya, semacam Nabi Khidir, dan Nabi Idris. Ini mengindikasikan bahwa, ada diantara manusia pilihan Allah, yang bisa mengalami kondisi semacam itu. Manusia yang bukan pilihan Allah pun (wallahu a’lam) ada yang jasadnya masih bernyawa tapi mengecil secara ukuran tubuh. Contohnya adalah makhluk jengglot (wallahu a’lam).

Bagi yang telah membaca Uga Wangsit Siliwangi secara utuh, dan yang pernah membaca tanda-tanda akhir jaman, semacam diturunkannya Imam Mahdi, anda akan melihat benang merah dari cerita-cerita tersebut. Dan akan terperangah ketika sudah memahami cerita sejatinya.

Sebelum saya membedah dasar yang kedua, saya pertajam dulu pembedahan yang pertama, bahwa untuk menelusuri bukti Pajajaran, harus dengan dasar keyakinan dan keimanan. Bagi yang mempunyai dasar keyakinan dan keimanan yang sungguh-sungguh, maka apa yang saya paparkan di atas, tidak akan pernah mengganggu sedikitpun tentang keyakinan dan keimanan yang anda miliki, bahkan seharusnya menjadi semakin kokoh. “Laailaha ilallah, Muhammadarrosulullah”.

Kedua. “amparan” atau dasar yang harus dimiliki untuk menelusuri bukti pajajaran adalah dengan dasar keilmuan. Ya. Dasar keilmuan. Untuk menelusuri bukti Pajajaran, dasar keyakinan saja tidaklah cukup, anda juga harus memiliki dasar keilmuan. Keilmuan yang dimaksud di sini adalah keilmuan secara universal. Menyangkut keilmuan dari berbagai disiplin ilmu, baik ilmu sosial, sejarah, keagamaan, sains, dan lain sebagainya. Kenapa harus dari berbagai disiplin ilmu? Karena berdirinya Pajajaran nanti, bukan lagi Pajajaran tempo dulu, tapi Pajajaran yang baru, Pajajaran yang masyarakatnya tidak lagi tradisional, tapi Pajajaran dengan masyarakat modern. Kenapa demikian? Karena isi uga tersebut menyiratkan atau menginginkan seperti itu. “Jig geura narindak! Ulah ngalieuk ka tukang!” Silahkan cepat bertindak! Tapi jangan menoleh ke belakang”.

Dari hasil tulisan di atas, saya akan meresume poin-poin penting terkait kata amparan.

1. Amparan berasal dari kata ampar, kata ampar bermakna alas. Alas merupakan lapisan yang berada di bawah berdirinya suatu benda yang ada di atasnya. Maka, alas juga bisa dimaknai sebagai dasar.
2. Dasar untuk menelusuri bukti-bukti Pajajaran adalah dengan dasar keyakinan, keimanan, dan keilmuan.

Berlanjut ke bagian ketiga

Bagi yang ingin mengetahui isi uga selengkapnya, bisa klik link berikut:
https://www.facebook.com/notes/prabu-subang-larang/uga-wangsit-siliwangi/393695184108

Wallahu a’lam bishowab

Dibedah oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on Juli 30, 2016, in 8. Lain-Lain. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: