Membedah makna Subang Larang

Dalam literatur sejarah tentang Nyi Subang Larang yang saya baca, disebutkan, bahwa makna dari kata Subang itu berasal dari kata “Sub Ang”, yang berarti “Pahlawan Berkuda”. Konon, kata tersebut diambil dari bahasa arab yang diberikan oleh Syekh Quro, yang merupakan guru Nyi Subang Larang. Namun apakah benar demikian? Lalu, apa keterkaitan Subang dengan Larang? Dan apa makna dari “Subang” dan “Larang” itu sendiri?

Pada tulisan ini saya mencoba menelusuri kebenaran makna dari kata tersebut, untuk mendapatkan makna hakiki dari kata Subang dan Larang.

Pertama, saya telusuri asal dari kata tersebut. Disebutkan, bahwa kata Sub dan Ang berasal dari bahasa arab, yang diartikan sebagai Pahlawan Berkuda. Namun, setelah saya cek kamus bahasa Arab, tidak ditemukan kata Sub atau Ang yang merujuk pada makna Kuda maupun Pahlawan. Ini keraguan pertama saya, yang meragukan makna, bahwa Subang adalah Pahlawan Berkuda.

Kedua, Saya telusuri lebih jauh sumber yang bisa memberikan penjelasan secara langsung. Dari sumber yang saya temui, konon makna Subang itu berasal dari kalimat “Falmughiroti Subhan” yang diambil dari potongan Ayat Al-Quran dari Surat Al-Adiyat. Kata tersebut, jika dilanjutkan pembacaannya (wasol) ke ayat selanjutnya, akan berbunyi Subhang (ikhfa). Namun, sumber tersebut lemah, karena subhan di sana lebih merujuk pada arti waktu (pagi). Selain lemah, juga terlalu dipaksakan, mengingat, di negara kita, sudah banyak ditemui kata subhan yang dijadikan nama seseorang, yang dalam penyebutannya maupun penulisannya, tetap subhan, bukan subhang.

Ketiga, Untuk meyakinkan saya bahwa potongan kata subang berasal dari kata subhang yang berarti pahlawan berkuda, yang diambil dari kalimat “falmughiroti subhan”, saya buka langsung surat Al-Adiyat, dan mencari artinya. Ternyata, kata “falmughiroti subhan” itu bermakna “dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi”. Sekali lagi, subhan (subhang) di sana bermakna waktu (pagi). Sekalipun ada kata kuda, bukan berasal dari kata subhan, dan sama sekali tidak disebut kata pahlawan.

Dari sini, saya membuat penafsiran, bahwa yang mempunyai pendapat bahwa kata Subang berasal dari kata Sub Ang yang diberikan oleh Syekh Quro kepada Nyi Subang Larang, itu hanyalah memakai kitab “kirata” saja, atau dengan istilah kekinian, bahwa metode yang digunakan untuk menafsirkan bahwa kata Sub Ang itu bermakna “pahlawan berkuda”, hanyalah metode cocokologi yang terlalu dipaksakan. Sekalipun pendapat tersebut didasarkan kepada ayat Al-Qur’an, tidak bisa dijadikan sandaran yang harus dipercaya.

Saya yakin, Syekh Quro bukan orang yang linglung dan bodoh, dengan memberikan nama “subang” dimaknai sebagai “pahlawan berkuda”. Jikapun harus memberikan gelar itu, pasti Syekh Quro mengambil kata Adiyaat yang bermakna “kuda perang yang berlari kencang”, bukan kata subhan yang berarti pagi.

Keempat, saya mencari literatur yang bisa memberikan bukti bahwa Nyi Subang Larang adalah seseorang yang pandai berkuda, ternyata belum saya temukan bukti atau literatur tersebut.

Dari sini, saya membuat hipotesis, bahwa munculnya penafsiran Subang berasal dari Sub Ang yang bermakna “pahlawan berkuda”, saya pikir itu berasal dari para penafsir sejarahnya saja, atau para penulis sejarahnya saja, bukan berasal dari Syekh Quro. Dimana dalam menafsirkannya hanya memakai kitab “kirata” untuk sebuah tujuan tertentu. Sekalipun literatur sudah telanjur menuliskan dan menafsirkan bahwa Subang itu berasal dari kata Sub Ang (pahlawan berkuda), justru ini kekeliruan penuturan sejarah yang harus diluruskan.

Dengan keraguan saya akan makna subang yang dimaknai “pahlawan berkuda”, saya justru menggali dari perspektif (sudut pandang) lain.

Menurut saya, memaknai kata subang itu tidak serumit metode cocokologi di atas, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri disebutkan bahwa makna Subang adalah :
1. Perhiasan cuping telinga wanita yang biasanya berbentuk bundar pipih, terbuat dari emas dan sebagainya, ada yang bermata berlian dan sebagainya;
2. Potongan kecil-kecil dan pendek-pendek dari daun tebu, daun lontar, dan sebagainya yang dimasukkan dalam cuping telinga sebagai perhiasan;
Sumber : kbbi.web.id

Secara ringkas, menurut KBBI, bahwa makna Subang adalah perhiasan yang dipakai di telinga.

Nah, darisinilah pilosofi yang harus dikejar. Jika makna Subang adalah perhiasan (bukan “pahlawan berkuda”), apa pilosofi yang mendasari pemberian nama Nyi Subang Larang? Sebelum saya bedah pilosofinya, kita harus mengetahui perjalanan sejarah Nyi Subang Larang.

Sebelum namanya disebut Nyi Subang Larang, beliau mempunyai nama Kubang Kencana Ningrum. Kubang Kencana Ningrum (Nyi Subang Larang), adalah seorang tokoh wanita yang berperan menyebarkan ajaran agama Islam di pesisir pantai utara Jawa Barat. Beliau merupakan murid kesayangan dari Syekh Quro yang mempunyai pondok pesantren di daerah Karawang Jawa Barat. Periode Nyi Subang Larang itu satu masa dengan Raden Pamanah Rasa, atau yang lebih dikenal dengan Prabu Siliwangi.

Disebutkan, bahwa Prabu Siliwangi, atau Raden Pamanah Rasa, atau Sri Baduga Maharaja, tertarik terhadap Nyi Subang Larang (Kubang Kencana Ningrum). Untuk itulah, Prabu Siliwangi memperistri Kubang Kencana Ningrum sebagai istri yang kedua. Pada waktu itu disebutkan, bahwa Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) memegang keyakinan yang berbeda dengan Nyi Subang Larang, dimana Prabu Siliwangi memegang keyakinan leluhurnya (sunda wiwitan yang berbaur dengan ajaran hindu), sementara Nyi Subang Larang mempunyai keyakinan terhadap ajaran Islam.Ini pula sejarah yang harus diluruskan, karena dari sini terdapat kerancuan sejarah tentang Kian Santang. Namun dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang Kian Santang.

Dua hal yang menjadi pertanyaan besar, jika Prabu Siliwangi menikah dengan Nyi Subang Larang dengan keyakinan yang berbeda,
1. Apakah bisa dengan mudah Syekh Quro yang merupakan guru dari Nyi Subang Larang, mengijinkan pernikahannya?
2. Apakah mungkin, Nyi Subang Larang, yang merupakan tokoh besar agama Islam, yang mempunyai pesantren (kobong amparan alif), mau menikah dengan pria yang berbeda keyakinan?

Jika itu terjadi, bisa dibayangkan, bagaimana efeknya terhadap santri-santri dan pengikut dari Syekh Quro maupun santri Nyi Subang Larang sendiri?

Inilah kemudian yang saya jadikan KUNCI.

Di sumber lain disebutkan, bahwa syarat Prabu Siliwangi untuk dapat menikahi Nyi Subang Larang (Kubang Kencana Ningrum), adalah dengan maskawin “Lintang Kerti”, dimana arti dari Lintang Kerti tersebut adalah kumpulan seratus bintang. Apa Pilosofi Lintang Kerti itu? Disebutkan bahwa pilosofi lintang kerti itu adalah kalimat tasbih.

Jika maskawin dari Prabu Siliwangi adalah kalimat tasbih, maka akan menjadi sia-sia jika Prabu Siliwangi sendiri tidak memeluk agama Islam. Maka dari itu, saya mempunyai keyakinan, bahwa Prabu Siliwangi itu masuk atau memeluk ajaran Islam ketika menikahi Nyi Subang Larang.

Jika disebutkan bahwa Prabu Siliwangi telah memeluk agama Islam ketika menikahi Nyi Subang Larang, maka cerita yang menyebutkan bahwa Kian Santang (anak Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang) mengejar-ngejar Prabu Siliwangi untuk memeluk ajaran Islam, maka cerita tersebut menjadi gugur dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena, duluan mana antara menikah dan punya anak?

Kembali kepada makna Subang. Jika kata Subang dimaknai sebagai Perhiasan, apa hubungannya dengan sejarah di atas?

Dalam Islam disebutkan dalam sebuah hadits: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang sholihah”. (HR.Muslim).

Maka, Nyi Subang Larang merupakan perhiasan mewah bagi Prabu Siliwangi, karena Nyi Subang Larang sebagai tokoh penyebar Islam, pasti tidak diragukan lagi kesholihannya. Ketika sudah ketemu makna subang adalah perhiasan, kita bisa melihat jembatan antara kata “Subang”, dengan kata yang kedua, yaitu “Larang”.

Kata “Larang” menurut saya, berasal dari bahasa jawa, dimana dimasa dulu, ada keberbauran antara bahasa Jawa dan Sunda, bahkan sampai dengan sekarang. Dalam bahasa Jawa, kata “larang” itu bermakna “mahal”. Sehingga, jika disatukan antara Kata Subang dan Larang, maka terjadilah makna yang sinergis, yaitu “perhiasan mahal”.

Kenapa disebut perhiasan yang mahal mahal? Karena untuk menyunting Nyi Subang Larang (Kubang Kencana Ningrum), Prabu Siliwangi harus rela melepaskan keyakinannya terhadap ajaran sebelumnya.

Sehubungan dengan Nyi Subang Larang merupakan seseorang yang bukan untuk diperjualbelikan, maka pemaknaan kata “mahal” haruslah tak terhingga, atau tidak bisa diukur dengan apapun. Sehingga, kata “mahal” disana bisa dipadankan dengan kata “berharga”. Sehingga, makna Subang Larang secara pilosofis adalah “Perhiasan Berharga”.

Selain makna pilosofis, sebagai fakta pendukung bahwa makna Subang Larang secara harfiah adalah perhiasan berharga, di situs petilasan Subang Larang yang berlokasi di Desa Naggerang Kecamatan Binong Kabupaten Subang, ditemukan berbagai perhiasan yang berharga. Ini menandakan, selain bermakna pilosofis, Subang Larang juga secara harfiah bermakna perhiasan berharga. Atau, bisa dimungkinkan bahwa Nyi Subang Larang sendiri adalah seseorang yang gemar mengkoleksi perhiasan-perhiasan yang berharga, sehingga ini kemudian menjadi julukan bagi Kubang Kencana Ningrum.

Terlepas kita mau memakai makna pilosofis atau makna secara harfiah dari Subang Larang yang bermakna “perhiasan berharga”, sekali lagi ini membuktikan, bahwa pemaknaan kata Subang sebagai “Pahlawan Berkuda” adalah sesuatu hal yang tidak berdasar.

Wallahu a’lam bishowab

Dibedah oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on Juli 27, 2016, in 3. Seni, Tradisi & Budaya, 4. Pilsafat, 8. Lain-Lain. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: