Proyeksi Takdir dalam Tinjauan Ilmu Kimia untuk “JODOH MANUSIA”

Sebelum mengupasnya, kita sepakati dulu definisi takdir dalam tulisan saya kali ini :
Qada adalah ketentuan atau ketetapan
Qadar adalah ukuran atau kadar
“Pertemuan satu kondisi atau lebih antara qada dan qadar, terbentuklah taqdir”. HYA

Untuk mempermudah pemahaman, saya bahas yang satu dan dua kondisi saja, agar lebih mudah diproyeksikan dalam “jodoh manusia”

Kondisi yang dimaksud saya disini adalah untuk satu jenis unsur.

Contoh untuk yang satu kondisi (1 unsur sama) dengan kadar berbeda

Qada untuk oksigen : Oksigen akan terbentuk jika terdapat 2 atom oksigen yang saling berikatan (O2).
Qadarnya adalah : 2 atom oksigen
Maka takdir “oksigen” akan terjadi.

Bagaimana jika 3 atom oksigen yang berikatan? maka takdirnya bukan oksigen, tapi ozon.
Qada untuk ozon : Ozon akan terbentuk jika terdapat 3 atom oksigen yang saling berikatan (O3).
Qadarnya adalah : 3 atom oksigen
Maka takdir “ozon” akan terjadi.

Contoh untuk dua kodisi (2 unsur berlainan) dengan kadar berbeda

Qada untuk karbon monoksida : karbon monoksida terbentuk jika terdapat 1 atom karbon (C) dan 1 atom oksigen (O) yang saling berikatan
Qadarnya adalah : 1 atom karbon dan 1 atom oksigen
Maka takdir “karbon monoksida” (CO) akan terjadi.

Bagaimana jika atom oksigennya bertambah 1? maka takdirnya bukan lagi karbon monoksida, melainkan karbon dioksida.
Qada untuk 1 atom karbon dan 2 atom oksigen adalah “karbon dioksida” (CO2)
Qadarnya adalah 1 atom karbon dan 2 atom oksigen.
Jika bertemu, maka takdir “karbon dioksida” (CO2) akan terjadi.

Bagaimana jika atom oksigennya ada 3? maka takdirnya menjadi “karbon trioksida” (CO3).

Resume :
O2 = Oksigen
O3 = Ozone
CO = Karbon monoksida
CO2 = Karbon dioksida
CO3 = Karbon trioksida

Apa yang kita dapat dari permodelan kimia di atas?
Saya menarik benang merah bahwa, Qada (ketentuan) untuk setiap kondisi itu sudah ada, dan manusia sendiri lah yang dapat mendefinisikannya. Sementara untuk ketercapaian qada setiap kondisi itu adalah adanya kadar. Kadar inilah yang bisa ditambah ataupun dikurang. Penambahan satu kadar, akan mencapai qada yang baru, dan begitupun sebaliknya, pengurangan satu kadar, maka akan tercapai qada yang baru pula.
Pertemuan antara qada dan kadar itulah kemudian yang dinamakan dengan “TAKDIR”.

Sekarang, kita proyeksikan kepada jodoh manusia.
Agar lebih mudah dipahami, saya akan menyederhanakannya. Kenapa disederhanakan? Karena manusia merupakan makhluk yang tersusun atas beberapa unsur kimia rumit yang saling berikatan satu sama lain dengan kadar yang sudah ditentukan sehingga tercapai qada (perwujudan manusia).

Untuk lebih dipahami, saya ambil nama
1. Joni yang saya sederhanakan menjadi sebuah kondisi “Ji” dengan kadar cinta 1
2. Jono yang saya sederhanakan menjadi sebuah kondisi “Jo” dengan kadar cinta 2
3. Diana yang saya sederhanakan menjadi sebuah kondisi “Da” dengan kadar cinta 2
4. Diani yang saya sederhanakan menjadi sebuah kondisi “Di” dengan kadar cinta 3

Jika saya definisikan qadanya (secara sembarang) :
Jodoh akan terbentuk jika kadar cinta dua manusia berlainan jenis mencapai 4. (Angka 4 saya definisikan secara sembarang).
Dari qada tersebut dapat diuraikan ke dalam beberapa kondisi:
Jo akan berjodoh dengan Da, karena dalam kondisi alami, kadar cintanya sudah mencapai 4.
Dan Ji akan berjodoh dengan Di, karena dalam kondisi alami, kadar cintanya sudah mencapai 4 pula.

Itu jika dalam kondisi alami.

Namun menurut saya, karena manusia merupakan makhluk yang berkehendak, maka sebetulnya manusia bisa menurunkan atau menaikkan kadar cinta yang ada dalam dirinya. Ingat permodelan kimia di atas, bahwa kadar itu bisa naik dan bisa juga turun.

Maka, jika seandainya Ji ingin berjodoh dengan Da, maka Ji harus menaikkan kadar cintanya 1 lagi, sehingga kadar cintanya menjadi 2. Sehingga, jika Ji kadar cintanya menjadi 2, maka ia akan berjodoh dengan Da, dan saat itu pula tidak berjodoh dengan Di, karena kalau digabung, kadarnya melebihi qada, yaitu 5 bukan 4.

Begitupun dengan Jo. Jika ia ingin berjodoh dengan Di, maka Jo harus menurunkan kadar cintanya 1, atau kalaupun Jo yang tidak menurunkan kadar cintanya, maka Di lah yang harus menurunkan kadar cintanya 1. Dengan begitu, qada dengan kadar cinta 4 dari manusia berlainan jenis akan tercapai.

Ini hanyalah permodelan yang disederhanakan, dan saya buat kondisi qada secara sembarang, untuk lebih mudah dipahami dan lebih mudah diasumsikan pada permodelan kimia di atas.

Namun demikian, jika kita menerima permodelan di atas, maka kita akan lebih mudah memahami, kenapa seseorang yang sudah menikah puluhan tahun dan sudah memiliki anak, pada akhirnya harus bercerai dan menikah dengan yang lain? Itu karena kadar cinta pada salah satunya ada yang berkurang. Dan kenapa ada manusia yang tidak mempunyai jodoh hingga akhir hayatnya? Itu saya pikir, karena dia tidak bisa mengatur kadar cintanya menjadi naik atau menjadi turun. Atau dalam istilah lainnya, tidak bisa beradaptasi atas pasangannya. Karena mungkin terlalu memimpikan cinta yang sangat ideal dan sempurna, padahal kesempurnaan hanyalah milik Allah.

Itu hanyalah permodelan sederhana, yang saya ambil 1 kadar saja untuk mengukurnya, yaitu kadar cinta, dan mengabaikan kadar-kadar yang lainnya, diantaranya adalah kadar ekonomi, lingkungan (sosial), dan masih banyak lagi.

Wallahu a’lam bishowab

Posted on Februari 26, 2015, in 8. Lain-Lain. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: