MEMBEDAH CIRI “BUDAK ANGON”

Sebelum saya mulai membedah, saya suguhkan Rajah Siliwangi kepada Anda:

Lain ngusik ula mandina,
lain ngahudang macan turu-na.
Lain ngungkit nu kamari,
lain ngungkab nu baheula.
Rek ngaguar tutungkusan karuhun.
Amit ampun nya paralun ka Gusti nu Maha Agung,
Ka Nabi anu Linuhung,
Muhammad anu di junjung, rahmat syafa’at ka suhun.
Sim kuring neda papayung.
Ka luhur neda papayung, papayung nu Maha Agung
Ka handap neda pangraksa, pangraksa Maha Kawasa
Kaler, Kulon, Kidul, Wetan Mugi diaping di jaring.
Ti luhur ti Karuhun, ti Buyut ti Nini Aki
nu nurunkeun kabudayaan
degung, pantun, tembang, kawih ieu abdi sadayana

seja ngaraksa mupusti

Amit ka nu mangku lembur,
kanu nyungsi dinu sepi,
nu keur genah tumaninah
Bisi ka usik keur calik,
ka langkah kaliliwatan
neda agung nya haksami
Amit ngahudang wayangkeun.

========================

“Budak Angon” adalah sebuah istilah yang terdapat dalam “Uga Wangsit Siliwangi”. Dalam Uga tersebut disebutkan, bahwa “Budak Angon” adalah seorang tokoh yang diceritakan bisa menjadi tumpuan harapan atas kondisi suatu bangsa yang dari masa ke masa semakin kacau dan tidak karuan, terkait bobroknya mental para pejabat dan penguasanya.
Sudah banyak sekali sumber yang mencoba membedah siapa sebenarnya “Budak Angon” itu, tentunya dengan versinya masing-masing. Dengan banyaknya sumber yang telah ada, maka saya pun menyarankan kepada Anda untuk menelaah semua sumber, dan tidak terpaku hanya kepada satu sumber saja, karena semuanya juga masih berupa prediksi, dan mempunyai banyak kemungkinan. Banyaknya kemungkinan itu dikarenakan dalam Uga-nya sendiri memakai bahasa perumpamaan yang memiliki arti yang multitafsir. Selain itu juga sangat tergantung kepada tingkat pengetahuan dan kemampuan seseorang penafsir dalam membaca setiap petunjuk-petunjuk yang ada, baik itu petunjuk dalam uga-nya sendiri, maupun dalam tataran realitasnya.

Ciri “Budak Angon” yang dikemukakan dalam Uga tersebut yaitu:
”Imahna di birit leuwi, pantona batu satangtung, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangona ? Lain kebo lain embe, lain meong lain banteng, tapi kalakay jeung tutunggul”
=========================
“Rumahnya di pinggir kali, pintunya batu setinggi badan, tertutupi oleh “handeuleum”, terimbuni oleh “hanjuang”. Kalau menggembalanya? Bukan kerbau bukan kambing, bukan kucing (lebih kepada kucing besar), bukan banteng, tapi daun kering dan “tutunggul”.

Untuk membedah ciri-ciri dimaksud, saya tidak memulai dari ciri pertama, tapi saya loncat ke ciri kedua, untuk nanti didapat ciri seutuhnya dari “Budak Angon”.

“pantona batu satangtung”
Pada ciri kedua disebutkan “pantona batu satangtung” (pintunya batu setinggi badan).
Panto / Pintu; adalah bagian dari rumah yang gunanya untuk keluar dan masuk. Jika kita ingin mengetahui isi rumah, maka harus masuk melalui pintu. Begitupun ketika keluar. Jika diidentikkan dengan anggota tubuh seseorang, maka identik dengan mulut. Sementara salah satu fungsi mulut adalah untuk berbicara mengungkapkan isi hati.

Batu; adalah benda yang berbentuk keras dan mempunyai alur/gurat yang tegas. Identik dengan ketangguhan, keteguhan, ketegasan.

Setinggi badan; mengidentikkan sesuatu yang dapat diukur oleh semua orang.

Jadi, perumpamaan/siloka dari “Pantona Batu Satangtung” menurut saya adalah apa yang keluar dari mulutnya melambangkan isi hati yang tegas dan teguh pendiriannya, serta apa yang diucapkannya terukur oleh semua orang.

“kahieuman ku “”handeuleum””
Pada ciri ketiga disebutkan “kahieuman ku “”handeuleum”” (tertutupi oleh “handeuleum”).
Dalam bahasa Sunda, “handeuleum” adalah nama sebuah tumbuhann yang mempunyai daun berwarna merah, hampir sama dengan daun mengkudu. Suka dibuat pagar hidup di pekarangan, sebab dipercaya ada manfaatnya (maunat). Pekarangan yang ditanami oleh “handeuleum” akan terlihat penuh misteri (seram/angker), dan tanaman ini ditakuti oleh para pencuri, karena seperti ada “penunggunya”.

Jadi menurut saya, siloka dari “kahieuman ku “”handeuleum”” adalah sosok “Budak Angon” tersebut penuh misteri dan berwibawa, ditakuti oleh para pihak yang akan mencuri. Mencuri apa? Tentunya mencuri kekayaan bangsanya.

“karimbunan ku “”hanjuang””
Pada ciri keempat disebutkan “karimbunan ku “”hanjuang”” (terimbuni oleh “hanjuang”).
Sama halnya dengan “handeuleum”, “hanjuang” juga nama sebuah tumbuhan, berdaun lebar dan panjang. Daunnya ada yang berwarna hijau dan ada juga yang berwarna merah. Daun yang berwarna merah suka disebut “hanjuang siang”. Dalam istilah Sunda, “hanjuang” suka diidentikan dengan “berjuang/perjuangan”.

Jadi menurut saya, siloka dari “karimbunan ku “”hanjuang”” adalah sosok “Budak Angon” jiwanya dipenuhi (terimbuni) gelora perjuangan, dan dalam tataran praktisnya, ia juga suka berjuang untuk mencapai berbagai misi.

Untuk itu, setelah kita dapat makna tiga ciri dari “Budak Angon”, yang disilokakan dengan: “pantona batu satangtung, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang” (pintunya batu setinggi badan, tertutupi oleh “handeuleum”, terimbuni oleh “hanjuang”), maka untuk bisa mendapatkan makna dari ciri pertama : “imahna di birit leuwi” (rumahnya di pinggir kali), jangan pernah menganggap “imah” / rumah tersebut secara tekstual, melainkan harus dilihat bahwa “imah” / rumah dimaksud adalah perumpamaan dari sosok raga si “Budak Angon” yang raganya merupakan rumah bagi jiwa yang tegas, teguh, berwibawa, ditakuti oleh semua yang berniat jahat, dan penuh gelora perjuangan.

Maka setelah memahami bahwa “imah” / rumah tersebut adalah sosok raga si “budak angon” itu sendiri, lalu apa makna dari “birit leuwi” (sisi kali)?.

Menurut saya, kali adalah tempat mengalirnya air, sementara air adalah sumber kehidupan, seperti yang tertuang dalam QS. Al-Anbiya ayat 30 “ ……Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup …”
Maka, hidup/keberadaan dari si “Budak Angon” ini dekat sekali dengan sumber kehidupan / kemakmuran, ini sebagai perlambang dia bukanlah seseorang yang susah, tapi ia merupakan orang yang makmur, karena hidupnya dekat/disisi sumber kemakmuran itu sendiri.

Untuk ciri selanjutnya yaitu :
“Ari ngangona ? Lain kebo lain embe, lain meong lain banteng, tapi kalakay jeung tutunggul”
(“Kalau menggembalanya? Bukan kerbau bukan kambing, bukan kucing (dimaksud lebih kepada kucing besar/macan/harimau), bukan banteng, tapi daun kering dan “tutunggul”).

Ciri tersebut tidak akan saya buka pada kesempatan ini, mungkin di lain waktu.

Ayeuna mah, siar ku dia eta budak angon! Jig, geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

Sekarang “mah”, cari olehmu itu budak angon! Ayo, cepat bertindak!, Tapi, jangan menoleh ke belakang!

Oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on Mei 23, 2014, in 3. Seni, Tradisi & Budaya and tagged , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. assalammualaikum…..salam dari saya

  2. Assalamu alaikum wr,wb … Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih banyak atas khazanah pengetahuan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada hamba pilihannya untuk membuat tulisan di dalam situs atau blog ini. Dengan hormat dan sangat memohon maaf, kalau kami mengajak dan mengundang saudara untuk mengunjungi situs atau blog kami http://www.laskarbuniarroadtothe.blogspot.com sekedar untuk berbagi informasi dan pengetahuan
    Wassalam

  3. Ini lokasi keberadaan budak angon yg dimaksudkan siliwangi menurut semedi kami dalam mencari orang yg dimaksud siliwangi : https://timsuksestuhan.wordpress.com/2015/03/08/lokasi-gua-ashabul-kahfi-dan-ramalan-siliwangi-adalah-batu-gantung-danau-toba/

  4. salam alaikum..
    disebut hiji teu tiasa, disebut dua emang ngahiji(b a & b j),.. Sanes dilarang nu aya nya dirahasiakeun..
    susukan tempat nyucikeun nu aya teu tebih sareung bumi NYA…

    gaduh panon aya dua tpi ngan hiji paragi nempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: