KEMUNCULAN “BUDAK ANGON” dan KEPEMIMPINAN INDONESIA

Tentunya kita semua berharap, suatu saat nanti negeri kita tercinta dipimpin oleh seorang Ratu Adil Sejati. Namun yakinlah, hal itu akan terwujud, dan akan segera terwujud. Saya sendiri tidak dapat memastikan dengan tepat, kapan munculnya Ratu Adil tersebut. Namun sebagai seorang Warga Negara Indonesia yang cinta akan kemasyhuran para leluhur, saya merasa perlu untuk membawa kabar gembira karena saya mempunyai warisan para leluhur Bangsa Indonesia yang Adiluhung, yang bisa (Insya Allah) mengungkap kemunculan Ratu Adil.
Apa warisan leluhur itu? adalah literatur sejarah yang tidak tercatat secara resmi, namun diwariskan secara turun temurun, yang di dalamnya mengandung “kesaktian”, dan menggambarkan “keadiluhungan” yang luar biasa, yang bisa jadi dihasilkan oleh seorang “manusia pilihan” yang mempunyai hati yang suci bersih, yang peduli atas perjalanan hidup bangsanya. Kenapa saya bisa sampai mengagumi? karena setelah saya baca dan saya telaah secara berulang-ulang, ternyata hampir 99% ada kesamaan antara cerita yang terdapat dalam “UGA” (semacam pantun) dan kehidupan nyata perjalanan Bangsa Indonesia.
Uga tersebut saya dapatkan dari sebuah link yang berada di situs unpad.ac.id. Sayangnya, link tersebut ketika saya cek sudah tidak bisa diakses. Namun saya sangat beruntung, karena sebelum link tersebut tidak dapat diakses, saya telah menyalin semua naskah dari “Uga” yang saya maksud. Jika anda penasaran cerita dari awal sampai akhir isi dari uga dimaksud, silahkan buka catatan saya (berbahasa Sunda) di link https://www.facebook.com/notes/husnul-yakin-ali/uga-wangsit-siliwangi/393695184108
Karena isi uga-nya panjang, saya hanya akan mengangkat beberapa bait saja yang terkaitkan dengan kondisi Bangsa Indonesia saat ini yang tengah menghadapi Pemilihan Presiden 2014.
Kondisi Bangsa Indonesia saat ini, jika menelaah Uga dimaksud, maka Indonesia berada pada fase kemunculan “Budak Angon”, bukan fase kemunculan “Ratu Adil”. Kenapa fase kemunculan “Budak Angon”? karena saya berpatokan bahwa fase sebelum “Budak Angon”, yakni fase yang dipimpin oleh “Budak Buncireung”, ini telah dan akan segera berakhir. Dimana “Budak Buncireung” diidentikkan dengan Presiden RI ke-6, yakni Soesilo Bambang Yudhoyono.
Bait uga-nya yang mengidentikkan fase SBY adalah :
“Ti dinya loba nu ribut; mimiti ti jero dapur, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara!
Nu barodo jaradi gelo marantuan nu garelut, di kokolotan ku budak buncireung !
Matakna gareleut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang panglobana; nu teu hawek hayang loba; nu boga hak marenta bageanan”
===================
(“Dari sana banyak yang ribut; dari mulai di dalam dapur, dari dapur jadi satu wilayah, dari wilayah jadi satu negara!
Yang bodo jadi pada gila membantu yang berkelahi, dipimpin oleh “Budak Buncireung!”
Sebabnya berkelahi? memperebutkan warisan. Yang serakah ingin yang terbanyak; yang tidak serakah ingin banyak, yang punya hak minta bagian”)

Kenapa fase ini identik dengan fase SBY? Kuncinya ada pada kata “Budak Buncireung”, yang mana arti “Buncireung” dalam bahasa Sunda adalah merujuk kepada hewan air (ikan) yang perutnya buncit, jika diidentikkan, maka seseorang yang memiliki bentuk tubuh tinggi besar dengan perut buncit. Selain itu, kata “memperebutkan warisan” identik dengan KORUPSI.

Setelah fase SBY inilah munculnya “Budak Angon”

“Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju nareangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateupan ku handeuleum di tihangan ku hanjuang”.
===================
“Buta-buta kemudian pada masuk (mungkin masuk bui), yang berkelahi pada khawatir, pada takut dituduh yang menyebabkan hilangnya negara. Kemudian mencari “Budak Angon”, yang rumahnya di sisi sungai yang pintunya batu “setangtung” diatap “handeuleum”, bertiang oleh “hanjuang”.

Merunut bait di atas, jelas, setelah fase SBY, maka akan datang fase “Budak Angon”. Namun, alih-alih mencari “Budak Angon”, nyatanya mencari “Budak Tumbal”.

“Nareangan budak tumbal, Tapi, sejana dek marenta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, enggeus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawene !!”
===================
“Pada mencari “Budak Tumbal”, tapi, maksudnya mau minta tumbal. Tapi, budak angon sudah tidak ada, sudah bertindak bersama-sama dengan “Budak yang Berjanggut”; sudah pergi pindah membuat babak baru, pindah ke “Lebak Cawene!!”

Dalam bait yang telah saya paparkan di atas, ada tiga tokoh kunci setelah SBY menyelesaikan masa jabatannya. Ketiga tokoh tersebut adalah; “Budak Angon, Budak Janggotan, dan Budak Tumbal”.

Kaitannya dengan Pemilihan Presiden yang sedang kita hadapi sekarang ini, satu diantara dua pasang calon presiden, saya memprediksikan salah satunya adalah “Budak Angon”, sementara satunya lagi adalah “Budak Tumbal”. Bagaimana dengan “Budak Janggotan”? tidak akan saya bahas dalam kesempatan ini.

Jika demikian, apakah yang dimaksud “Budak Angon” itu adalah JOKOWI? atau PRABOWO? semua memungkinkan untuk menjadi tokoh “Budak Angon”, baik itu JOKOWI, maupun “PRABOWO”. Namun, tentu saja tidak keduanya secara bersamaan, melainkan salah satu saja, sementara yang satunya adalah “Budak Tumbal”.

Lantas, apa ciri-ciri “Budak Angon” itu? Hal ini digambarkan di bait yang lain:

“Ari ngangonna? Lain KEBO, lain EMBE, lain MEONG, lain BANTENG, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun.”
===================
“Kalau menggembalanya? bukan KERBAU, bukan KAMBING, bukan, KUCING, bukan BANTENG, tapi daun kering dan kayu tunggul. Yang bersangkutan terus mencari, mengumpulkan yang ketemu. Sebagian disembunyikan, sebab belum waktu dilakonkan. Nanti jika sudah waktu dan masanya, akan banyak yang terbuka dan pada ingin dilakonkan”.

Yang jelas, entah JOKOWI atau PRABOWO yang menjadi “BUDAK ANGON”, namun ciri-cirinya sudah jelas disebutkan di bait tersebut. Sengaja saya membesarkan nama-nama binatang yang ada di bait tersebut, karena menurut saya, itulah kunci kita mengenali “BUDAK ANGON” dimaksud.

Coba kita perhatikan nama-nama binatang yang disebutkan, di sana ada empat nama binatang, dengan dua binatang yang identik (sama) disebut duakali (KERBAU, BANTENG), sepertinya ini suatu penegasan, bahwa “Budak Angon” bukanlah penggembala binatang tersebut.
Binatang di ataspun hanyalah simbol, bukan binatang sesungguhnya, karena “BUDAK ANGON” disimbolkan oleh burung gagak, seperti bait selanjutnya :

“Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul”
====================
“Yang terlihat hanya tinggal gagak, yang sedang berkoar di atas kayu tunggul”

Saya tidak bermaksud untuk mempengaruhi pendirian Anda dalam menentukan pilihan Presiden, namun saya sebagai ahli waris dari “pusaka” tersebut, merasa terpanggil untuk mencari “BUDAK ANGON”, dan mengabarkannya kepada Anda. Adapun siapa yang nanti terpilih menjadi Presiden, semua Rahasia Illahi

“Engke oge dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia eta budak angon !”
====================
“Nanti juga kamu akan pada tahu. Sekarang, cari olehmu itu budak angon !”

Dalam mencari “Budak Angon” ini, seyogyanya tidak melihat ke belakang (jangan terpengaruh isu-isu masa lalu)

“Jig, geura narindak ! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang !”
====================
“Silahkan, cepat bertindak ! Tapi, jangan menoleh ke belakang !”

Setelah itu, jika fase Budak angon telah dilalui, maka selanjutnya adalah kemunculan “RATU ADIL”

“Darengekeun !!
Jaman bakal ganti deui. Tapi engke, amun gunung Gede anggeus bitu di susul ku tujuh gunung. Genjlong deui sajajagat. Urang Sunda disasambat, urang Sunda ngahampura. Hade deui sakabehanana. Bangunan ngahiji deui. Mangsa jaya, jaya deui; sabab Ratu anu anyar, Ratu Adil sajati. Tapi Ratu saha ? Ti mana asalna eta Ratu ?”
====================
“Dengarkan !!
Jaman akan berganti lagi. Tapi nanti, jika gunung Gede selesai meletus disusul oleh tujuh gunung. Gempa lagi sejejagat. Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Bangunan bersatu kembali. Masa jaya, jaya lagi; sebab Ratu yang baru, Ratu Adil sejati. Tapi Ratu siapa? Dari mana asalnya itu Ratu?”

Engke oge dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia eta budak angon !”
====================
“Nanti juga kamu akan pada tahu. Sekarang, cari olehmu itu budak angon !”

Wallahu a’lam bishowab

Oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on Mei 22, 2014, in 3. Seni, Tradisi & Budaya and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Assalamu alaikum wr,wb … Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih banyak atas khazanah pengetahuan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada hamba pilihannya untuk membuat tulisan di dalam situs atau blog ini. Dengan hormat dan sangat memohon maaf, kalau kami mengajak dan mengundang saudara untuk mengunjungi situs atau blog kami http://www.laskarbuniarroadtothe.blogspot.com sekedar untuk berbagi informasi dan pengetahuan
    Wassalam

  2. Raden Anom Jaka Surya 101

    Lantas, apa ciri-ciri “Budak Angon” itu? Hal ini digambarkan di bait yang lain:

    “Ari ngangonna? Lain KEBO, lain EMBE, lain MEONG, lain BANTENG, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun.”
    ===================
    “Kalau menggembalanya? bukan KERBAU, bukan KAMBING, bukan, KUCING, bukan BANTENG, tapi daun kering dan kayu tunggul. Yang bersangkutan terus mencari, mengumpulkan yang ketemu. Sebagian disembunyikan, sebab belum waktu dilakonkan. Nanti jika sudah waktu dan masanya, akan banyak yang terbuka dan pada ingin dilakonkan”.

    Penjelasan dari ku ttg bait tsb, bahwa Budak Angon itu dlm perjalanan menelusuri sejarah bertemu dgn sosok wujud binatang (spt kerbau (lembu), maung (harimau), makhluk ini meminta tolong agar disempurnakan agar bisa kembali menjadi manusia spt sedia kala. Bertahun2, beratus2 tahun bahkan beribu2 tahun dengan sabar menanti keturunannya yg bisa menolongnya. Sebab sesungguhnya mrk adlh org tuanya (leluhurnya) Budak Angon, dari setiap leluhurnya mempunyai cerita sendiri2. Sebab mrk itu adlh bagaikan pohon kehidupan (silsilah manusia yg disimbolkan dgn pohon), mk dlm keterangan tsb Budak Angon makin semangat mengumpulkan daun ranting kering (para leluhurnya yg sudah wafat, hendak ditolongnya). Dari sinilah cerita diawali oleh budak angon tsb menemukan apa yg dicari-carinya yaitu mengumpulkan daun ranting kering dan sisa potongan pohon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: