BIROKRASI JAHILIYAH; Perlukah Agama Baru untuk Menghalaunya?

Saat ini kita, khususnya saya pribadi merasakan begitu semrawutnya birokrasi pemerintahan yang ada saat ini, di segala lini dan sektor sudah dikepung dengan birorat-birokrat bermental bejat, dengan menuhankan jabatan dan uang adalah segalanya. Mereka sepertinya lupa akan sumpah dan jabatan, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana memanfaatkan jabatan semaksimal mungkin untuk dapat memperkaya diri, entah itu dengan cara wajar maupun dengan cara tak wajar. Sebagai contoh kasus; Apakah kita menutup mata dengan sistem perekrutan PNS yang mengharuskan membayar ratusan juta rupiah? Apakah anda menganggap bahwa itu sesuatu yang bukan Jahiliyah? Maaf ini terjadi di suatu daerah “emosi” (bukan daerah mimpi).

Sebetulnya saya tak bermaksud mengeneralisir birokrat dengan mengambil pendapat seperti itu, dan saya tak bermaksud mengesampingkan adanya birokrat berhati baik, yang dengan tulus iklas bekerja mengabdi untuk bangsa dan negara tanpa harus memandang segala sesuatu dengan uang. Namun, apalah artinya seorang birokrat berhati baik dengan seribu birokrat berhati bejat yang mengepungnya? dan sepertinya mereka birokrat berhati baik tak mampu berbuat banyak menyikapi keadaan yang sebetulnya pasti mereka akui.

Kenapa lantas dalam wacana di atas saya mengambil lonjakan hipotesa pertanyaan “Perlukah Agama Baru untuk Menghalaunya?” apakah saya menuding bahwa agama yang ada saat ini tak mampu berbuat banyak? Ingin saya garis bawahi di sini, bahwa saya tidak menuding pada hanya satu agama saja, namun ini semata lebih bersifat universal untuk membuka mata hati dan pikiran mereka birokrat bejat yang tegas-tegas mengaku beragama dan ber-Tuhan Yang Maha Esa.

Jika anda lantas mempunyai pikiran apakah saya mendustakan agama yang ada saat ini sebagai agama suci dari Tuhan, lantas, kalau memang demikian, siapa yang saat ini bertanggung jawab terhadap bejatnya mental-mental birokrat saat ini? apakah saya harus menuding-nuding agama yang tidak ada di bumi nusantara? Dan sebetulnya siapa yang lebih sebagai pendusta agama? penulis yang mewacanakan “Perlukah Agama Baru untuk Menghalaunya?” atau birokrat bejat yang mengaku beragama dan ber-Tuhan?

Saya pun tak mau berspekulasi lebih jauh, ini semata hanya untuk mewakili mereka-mereka yang merasa frustasi akan fenomena birokrasi saat ini.

Oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on September 13, 2012, in 8. Lain-Lain. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Tidak perlu koq. Sekitar 90% lembaga pemerintah korup tapi sekitar 80% ingin tidak ada korupsi. Korupsi dilaksanakan karena berbagai alasan: Terpaksa, desakan, lupa, dan ang palin sedikit:Tamak dan Jahat. Kita cuma perlu pemimpin yang sanggup memberi contoh dan konsisten plus penerapan pengendalian intern yang benar secara serentak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: