Haruskah Engkau Gadaikan Jiwamu Untuk Sebuah Pekerjaan?

Pekerjaan, sejauh dipandang sebagai sesuatu aktivitas yang mengharapkan ridho Yang Maha Kuasa adalah sesuatu yang sangat mulia dan bernilai ibadah, namun, jika pekerjaan sudah dijadikan suatu objek yang didewakan dapat memberikan jaminan kehidupan bagi pribadi seseorang sehingga orang tersebut melupakan hakikat yang memberikan jaminan hidup terhadap dirinya, menurut saya merupakan sesuatu yang terlalu berlebihan. Namun, bukan berarti pula kita harus berpangku tangan tidak usah bekerja dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini karena sudah dijamin oleh Yang Maha Kuasa, bukan, bukan itu yang ingin saya kemukakan pada catatan ini.

Saya ingin mengupas fenomena yang terjadi pada kehidupan saat ini, dimana manusia seolah gelisah akan nasib dirinya yang mengharapkan sesuatu yang diimpikan akan memberikan jaminan hidup dan kehidupan bagi dirinya baik di masa kini maupun di masa dimana ia sudah renta tidak produktiv lagi dalam bekerja. Pandangan saya, fenoma tersebut adalah wajar, karena sudah saya tekankan bahwa manusia hidup bukan untuk berpangku tangan. Namun yang tidak wajar adalah fenomena tentang tidak jarang dari mereka yang rela mengeluarkan sejumlah imbalan puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.

Jika Anda bertanya adakah orang yang rela mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah untuk sebuah pekerjaan  dengan ukuran “standar” bergaji?, saya jawab, di tempat saya ada dan menjadi fenomena mencolok musiman.

Menurut saya, fenomena seperti inilah yang dinilai saya pribadi sebagai suatu kebodohan dalam menjalankan hidup dan kehidupan, karena baik secara sadar maupun tidak sadar, sebetulnya mereka telah menggadaikan jiwanya demi sebuah pekerjaan yang belum tentu mendapatkan rido dari Yang Maha Kuasa.

Sekarang, marilah kita berpikir jernih, seandainya Tuhan mempunyai rencana melahirkan diri kita sebagai insan mulia dengan hanya mengeluarkan energi sedikit tapi menghasilkan rizki penuh bekah, kenapa kita harus menggadaikan jiwa kita untuk bekerja setiap hari dari jam 7 hingga jam 4 sore dengan pekerjaan yang menjenuhkan?

Sekali lagi, ingin saya tekankan, ini bukan berarti kita harus berpangku tangan, tapi gapailah kemuliaan diri kita dengan hanya mengharap ridho-Nya. Bagaimana-pun, sesuatu yang didapat melalui suap-menyuap adalah hal yang tidaklah masuk kategori ridho Tuhan.

Oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on Januari 17, 2012, in 8. Lain-Lain. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Defiisi kerja yang sudah melenceng. Kerja adalah ibadah, bukan sekedar mencari nafkah sedang rezeki urusan lain.
    Definisi pembagian waktu pun sudah usang. Sekarang saatnya berfikir pemanfaatan waktu. Saya sering bekerja sambil kumpul keluarga atau dengan teman, juga sambil belajar dan berzikir, dan memanjakan diri dengan menikmati hembusan angin segar dan musik alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: