Menangkap Jibril

Pada tulisan ini saya ingin mencoba menangkap Jibril dan mempersembahkannya untuk anda. Namun, sebelum saya dapat menangkap Jibril, ada baiknya kita identifikasi dulu supaya tidak salah nangkap (ayo minta dulu fotonya ke Interpol) heheh…

Dengan tidak bermaksud mengesampingkan ajaran dari agama ataupun keyakinan lainnya, untuk dapat mengidentifikasi Jibril, saya akan mencoba menganalisa proses diterimanya wahyu oleh Nabi Muhammad dari Allah Swt. Dikisahkan bahwa ketika pertama kali Rasulullah menerima wahyu pertama di Gua Hira, keadaan Beliau saat pulang ke rumah dalam keadaan menggigil seperti ketakutan, dan seluruh tubuhnya merasa bergetar sehingga meminta keluarganya untuk menyelimuti dirinya hingga bergetarnya hilang. Di lain kisah disebutkan bahwa ketika menerima wahyu, beliau seperti mendengar bunyi lonceng yang sangat tinggi hingga tubuh Beliau merasa bergetar. Ya, bergetar setiap kali beliau menerima wahyu. Lantas, apa yang menyebabkan Beliau bergetar? sementara di saat wahyu pertama diturunkan, beliau tidak pernah melihat sosok Jibril.

Untuk melengkapi identifikasi, bahwa Jibril adalah malaikat, sehingga tentunya Jibril terbuat dari cahaya, karena disebutkan bahwa malaikat terbuat dari cahaya. Meskipun terbuat dari cahaya, tentu kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa malaikat adalah cahaya, tapi setidaknya kita bisa memulai dari mengidentifikasi cahaya. Menurut Wikipedia, bahwa Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm. Pada bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak.

Kita ambil simpelnya aja, bahwa cahaya merupakan energi berbentuk gelombang elektromagnet. apa itu gelombang elektromagnet? Gelombang elektromagnet adalah gelombang yang dapat merambat meskipun tanpa melalui medium, dan kecepatannya adalah merupakan kecepatan cahaya. Gelombang elektromagnet terdiri atas beberapa jenis gelombang, yakni : gelombang radio, gelombang televisi, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak, sinar ultraviolet, sinar x, sinar gamma.

Terus, bagaimana kita bisa mengubungkannya dengan cerita diterimanya wahyu oleh Muhammad?
Menurut pandangan saya, sangat jelas dan nampak, bahwa konsep diterimanya wahyu oleh Rasulullah adalah dengan menangkap getaran (gelombang elektromagnet) sebagai akibat adanya suatu Zat yang memancarkan gelombang tersebut. Dalam hal ini, kalau dikaji secara ilmu fisika, bahwa Muhammad sebetulnya sedang bertindak sebagai penerima gelombang (receiver/radio) dan yang menyiarkan gelombang tersebut adalah Dia yang Maha Pemilik Gelombang yang sedang bertindak sebagai Sesuatu yang memancarkan gelombang (transmitter/stasiun radio). Lantas, siapakah Jibril? pandangan saya, bahwa Jibril tidak lain dan tidak bukan adalah gelombang elektromagnet itu sendiri.

Oh… apakah dengan begitu apakah saya akan mengatakan bahwa untuk menangkap Jibril adalah dengan menyetel radio begitu? Saya tidak akan menyebutkan seperti itu, karena gelombang elektromagnet tidak harus ditangkap oleh radio, dan saya sendiri tidak tahu persis termasuk jenis gelombang elektromagnet manakah Jibril itu, apakah gelombang radio, televisi, inframerah, atau lainnya? karena semua gelombang hampir bisa dijadikan sarana untuk mengirimkan paket-paket data/informasi. (ingat teknologi infra merah pada HP?).

Yang ingin saya tekankan di sini, bukan menangkap gelombang-gelombang tersebut dengan alat-alat fisika, namun saya ingin tekankan bahwa tangkaplah gelombang tersebut dengan jiwa, ya, jiwa yang merasakan getaran akibat menyatunya frekwensi jiwa kita yang lemah dengan frekwensi Dia Yang Maha Pemilik Frekwensi. Karena syarat untuk dapat diterimanya gelombang tersebut oleh radio adalah dengan sama persisnya antara frekwensi penerima dan pemancar. Sedekat apapun stasiun radio/televisi di rumah kita, maka tidak akan tertangkap siarannya jika kita tidak memiliki radio/televisi dan mengetahui frekwensi gelombangnya. Begitupun jiwa kita, walau dikatakan bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat lehermu, tidak akan pernah kita rasakan kehadiran-Nya jika kita tidak berusaha menangkap dan mengetahui frekwensi sejati-Nya.

Wallahu a’lam bishowab

Oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on November 22, 2011, in 4. Pilsafat, 5. Sains. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Apakah Anda tahu Jibril punya kuda bernama Haizum?
    Jibril ikut berperang di perang Badar dan membinasakan musuh musuk islam dengan kudanya yang konon terbuat dari pasir gurun.
    Apakah Anda tahu Jibril ketika mengepakkan sayap maka akan tertutup seluruh ufuk barat dan ufuk timur?
    Apakah Anda tahu Jibril punya banyak rupa?
    Apakah cahaya dengan ilmu logika Anda bisa memecahkan itu semua?
    CMIIW

  2. Kabar yang didengar mas masih konon ya mas?…

    Konon menurut saya bahwa gelombang elektromagnet merambat melalui suatu medium yang sampai saat ini ilmu pengetahuan belum dapat mengungkap jenis medium apa untuk dapat dirambati gelombang tersebut, dan konon kuda haizum itulah medium dimaksud.

    Konon menurut saya gelombang elektromagnet dapat dimanfaatkan sebagai suatu persenjataan yang tidak hanya membunuh manusia, tapi juga dapat melumpuhkan persenjataan musuh yang dihadapi.

    Konon menurut saya bahwa jika manusia dapat memiliki kemampuan melihat gelombang elektromagnetik, maka pandangannya tidak akan pernah bisa melihat apapun walau dengan jarak satu milimeter dari matanya.

    Konon menurut saya bahwa gelombang elektromagnetik dapat berupa gelombang radio, televisi, infra merah, sinar x, cahaya tampak, dan berbagai jenis gelombang lainnya yang hingga saat ini ilmu pengetahuan belum dapat mengungkap semuanya.

    Silahkan direnungkan….

  3. Terima kasih Mas Admin, walaupun semua yang Anda katakan adalah bersifat hipotesis (dugaan sementara) mengenai Jibril di atas, tetapi cukup menarik jika memahami agama dikaitkan dengan ilmu fisika yang notabene, ilmu fisika adalah aktivitas dari hasil menggunakan logika/berpikir.

    Saya jadi teringat bunyi penggalan ayat Al-Qur’an “Afala tatafakkarun” apakah kamu tidak berpikir. Kita dianjurkan berpikir, mengenai apa saja yang ada di dalam ini. Yang penting, kita tidak meng-klaim apa yang kita pikirkan adalah kebenaran mutlak, terutama jika tidak ada landasannya di Al-Qur’an dan Hadits. Yang penting pula kita jujur mengatakan “ini hanya pemikiran saya”, jika ada pemikiran yang lebih benar patutlah diikuti.

    Coba lihat ulama-ulama dulu yang ahli matematika, kedokteran, fisika, dll, mereka menggunakan akal untuk berpikir, hasilnya dinikmati orang-orang masa kini. Banyak pula ilmuan nonmuslim dan atheis ketika mereka berpikir tentang sesuatu, akhirnya mereka mengakui keberadaan Allah SWT. dan mengakui Islam sebagai agama yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: