Orang Paling Beriman adalah Orang Paling Dungu

Sering saya bertanya, sebetulnya mana yang harus didahulukan, iman atau yakin? Dan manakah diantara keduanya yang mempunyai derajat yang lebih tinggi? Atau memang keduanya sama hanya berbeda secara istilah? pertanyaan ini saya lempar kepada orang2 yang notabene mempunyai kapasitas, namun jawaban yang saya dapat hanyalah jawaban relative dan mengandung makna dualitas, karena di satu sisi mereka mengatakan lebih tinggi iman, dan di sisi lain mereka mengatakan lebih tinggi yakin.

Yang berpendapat lebih tinggi iman berargumen bahwa kita harus beriman sesuai dengan perintah agama, karena segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, dan kalau kita tidak beriman maka Tuhan akan menimpakan adzab terhadap kita, dengan kata lain iman adalah harga mati. Sementara yang berargumen lebih tinggi yakin (haqul yakin) berargumen bahwa yakin lebih tinggi tingkatannya karena dengan yakin berarti kita telah menyaksikan secara langsung sesuatu yang kita imani, dan tidak bisa diragukan lagi keberadaan/kedudukan sesuatu yang kita imani terebut.

Saya belum bisa mengambil kesimpulan atas adanya dualisme pendapat tersebut, hingga akhirnya saya bertanya pada alam. Apa sebetulnya iman dan apa fungsinya? Namun sebelum saya mendapat jawaban, saya dibenturkan lagi pada penyataan bahwa manusia lebih mulia dan paling sempurna daripada makhluk lainnya, dan yang membedakan kemuliaan dan kesempurnaannya adalah dengan dianugerahinya akal oleh Tuhan pada manusia. Lantas apa fungsi akal? Apakah untuk lebih mempertebal rasa keimanan? atau sebaliknya? kalau akal adalah alat untuk mempertebal keimanan, bukankah dengan akal manusia banyak yang ingkar terhadap Tuhan-nya dan malah menuhankan akal? Bukankah seharusnya Tuhan tidak usah memberikan akal kepada manusia agar manusia semuanya menjadi patuh dan taat terhadap-Nya? Layaknya hewan, layaknya tumbuhan, layaknya benda langit, layaknya malaikat yang senantiasa patuh dan taat pada perintahnya karena tidak diberikan akal.

Dan ah… ternyata… alam memberikan jawabannya, jika begitu untuk beriman ternyata tidak perlu akal, dan itu berarti orang yang beriman adalah termasuk makhluk-makhluk yang dungu layaknya hewan, layaknya tumbuhan, dan malaikat sekalipun, karena mereka melaksanakan perintah-Nya tanpa pernah membantah sedikitpun.

Tapi tunggu dulu… kita kan dianugerahi akal? akal untuk berpikir. Jika untuk beriman tidak diperlukan akal, berarti sia-sia dong Tuhan memberikan akal kepada manusia? padahal Tuhan melalui ayat-ayatnya memerintahkan kepada manusia untuk berpikir… berpikir… dan berpikir… ya… karena ada istilah “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.”Lantas gimana dong korelasinya?

Oke langsung saja saya pada intinya daripada terus-terusan mengajak anda muter-muter. Orang yang paling beriman adalah orang paling dungu, karena untuk beriman tidak diperlukan akal. Namun saya mengkategorikan menjadi dua istilah dungu dimaksud.

  1. Orang beriman yang dungu dan benar-benar dungu karena tidak pernah mau menggunakan akal dan pikirannya untuk mencerna tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.
  2. Orang beriman yang dungu di hadapan Sang Pencipta karena ia gunakan akal dan pikirannya untuk mencerna tanda-tanda kebesaran-Nya dan menemukan Tuhannya yang sejati dalam dirinya (haqul yaqin), sehingga setelah itu ia tanggalkan akalnya dalam menerima kebenaran dalam ajaran-ajaran dari Tuhan-nya karena ia menemukan ketidak berdayaannya di hadapan Sang Pencipta.

Terdapat pada golongan manakah iman kita?

Wallahu a’lam bishowab

Oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on November 11, 2011, in 4. Pilsafat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: