Berakal Tapi Tak Berpikir

Harus kita maklumi bersama, bahwa ternyata setelah Rasulullah SAW membawakan risalah tentang Islam 14 abad silam, kini masih ada umat Islam yang cenderung mengalami kemerosotan cara berpikir, cenderung hanya terpaku pada karya-karya besar ahli tafsir jaman dulu, terperangkap dan terjerembab dalam paradigma berpikir kuno. Lebih ironis lagi, mereka lebih mengagungkan ahli tafsir beserta tafsirnya yang nyata-nyata para ahli tafsirnya pun tidak mengklaim benar seratus persen terhadap hasil tafsirnya.
Kita, dan mereka nampaknya lupa, akan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW.
“IQRA” bagi kita yang dikaruniai akal dan pikiran, hendaknya tidak memandang sempit arti iqro itu sendiri, jangan diartikan bahwa iqro adalah kegiatan membaca tafsir-tafsir saja, atau membaca kitab Al-Qur’an tanpa tahu makna sejatinya. Jika kita hanya mengartikan iqro adalah kegiatan membaca literatur-literatur kuno, kitab-kitab gundul, dan tulisan karya manusia-manusia lainnya, lantas mau kita kemanakan potensi akal yang terdapat dalam otak kita? Apakah kita sudah cukup dan sangat puas mendapatkan pemahaman dari karya-karya mereka? yang pada kenyataannya mereka ulama-ulama besar-pun adalah manusia biasa, mempunyai kealfaan dan kelemahan sebagaimana manusia pada umumnya, mereka bisa saja ketika menafsir mempunyai keterbatasan cara berpikir akibat terkungkung oleh jamannya.
Kita sepertinya lupa, bahwa ketika ayat pertama diturunkan, Rasul tidak diberikan catatan atau tulisan secuilpun oleh Jibril, namun beliau dipaksa untuk membaca dalam keadaan tidak ada catatan atau tulisan yang harus dibaca. Harusnya kita mengambil hikmah dari turunnya ayat pertama tersebut, bacalah ayat-ayat Illahi yang tersebar dan berhamburan di semesta raya ini, itulah sesejati-sejatinya membaca “iqra”, membaca dengan akal dan pikiran yang dikaruniakan oleh Allah kepada manusia.
Ah ternyata kita lupa lagi, belum apa-apa kita sudah dihakimi sebagai insan pemuja akal, belum apa-apa sudah didoktrin jangan gunakan akal untuk mencerna hal-hal ketauhidan, karena tidak akan terjangkau oleh akal. Oke, saya ingin mengajukan pertanyaan, apakah dengan demikian agama Islam tidak Ilmiah? Padahal di luar sana jaman sudah berkembang, segala sesuatu dituntut harus dengan logika, segala sesuatu dituntut harus dengan akal dan pikiran. Apakah kita senang jika agama kita distempel sebagai agama yang tidak Ilmiah? Puaskah Anda? Lalu mencaci mereka orang-orang yang telah menggunakan akal dan pikirannya? Bukalah mata, lihatlah fakta, mereka yang tadinya non muslim diberikan hidayah oleh Allah Swt. karena mereka menggunakan akalnya bahwa Islam adalah agama yang Ilmiah, ilmiah di segala-galanya, termasuk hal-hal ketauhidan. Sampai di sini, apakah Anda sendiri sudah bisa menjawab hal-hal ketauhidan dengan bahasa dan kajian ilmiah? Jika belum, segera gunakan akal dan pikiran Anda, jangan simpan akal dan pikiran Anda dalam freezer dogma-dogma agama, bebaskan akal dan pikiran anda untuk mencerna ayat-ayat Illahi yang bertebaran di semesta raya ini.
Wallahu a’lam bisowab
Oleh : Husnul Yakin Ali

Posted on November 11, 2011, in 4. Pilsafat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: