Inikah Tuhan yang Anda Maksud?

Tulisan ini adalah saduran dari tulisan Miniatur Tuhan, Malaikat, Syetan, Jin dan Manusia yang juga saya tulis sendiri. Perbedaannya adalah tidak disertai dengan dalil agama tertentu agar dapat diterima secara universal oleh semua kaum/golongan/keyakinan.

Tulisan ini saya landasi dengan pertanyaan :

Bagaimana mungkin kita memahami kebesaran Tuhan jika kita tidak memahami dan mengetahui hal terkecil yang diciptakan-Nya?

Semesta raya yang begitu amat luas, seluas mata kita memandangnya terbentuk oleh berbagai jenis materi dan energi yang sangat amat berlimpah. Dan ternyata energi dan materi yang sekian melimpah di semesta raya ini dahulunya adalah sesuatu yang padu, yang kemudian mereka saling menjauhi dan mengembang akibat suatu ledakan yang sangat dan teramat dahsyat yang dikenal dengan istilah “Big Bang”.

Namun tahukah anda, apa yang menyusun materi dan energi yang saat ini menjadi penyusun pokok semesta raya? Tak lain dan tak bukan ia hanyalah sekumpulan partikel yang sangat teramat kecil yang disebut tidak bisa dibagi-bagi lagi yang kemudian dikenal dengan istilah atom. Lantas, makhluk semacam apa atom itu? Di sini saya tidak akan membahas secara mendalam tentang atom, namun saya hanya ingin memperkenalkan kepada Anda miniatur hidup dan kehidupan yang terkandung dalam atom.

Atom tersusun atas inti atom, yang di dalamnya terdapat elektron, proton, dan neutron. Elektron adalah partikel sub atom yang bermuatan negatif, sementara proton adalah partikel sub atom yang bermuatan positif, dan neutron adalah partikel subatom yang tidak memiliki muatan. Lantas, kenapa saya menyebutnya miniatur Tuhan, Malaikat, Syetan, Jin dan Manusia? Apa korelasinya? dan kenapa Tuhan bisa dibuat miniatur? Bukankah Tuhan Maha Besar dan tidak bisa dipersamakan dengan makhluk?

Oke, kita buka satu persatu

Saya analogikan partikel bermuatan positif sebagai malaikat, alasannya, sesuai dengan sifatnya, bahwa arti positif sering diartikan dengan kebaikan, sementara partikel bermuatan negatif saya analogikan sebagai syetan, alasannya adalah bahwa arti negatif sering dipersamakan dengan keburukan. Lantas, dimana letak manusia, jin, dan Tuhan itu sendiri? Manusia dan Jin adalah makhluk yang tercipta atas ketiga partikel subatom itu sendiri, yakni Proton, elektron dan neutron. Kenapa demikian? karena antara Jin dan Manusia semuanya berpotensi membawa sifat kebaikan dan sifat keburukan, tergantung partikel mana yang lebih banyak terkandung dalam dirinya. Lantas, Tuhan itu apa?

Sebelum menjawab Tuhan itu apa, saya buka dulu fakta unik tentang atom.

Jika kita lebih jauh lagi membagi-bagi partikel subatomik, maka akan didapat sebuah getaran-getaran energi dalam setiap partikel subatomik yang menggerakkan dan menjaga setiap partikel subatomik dalam posisi dan lintasannya.

Lantas dengan demikian apakah saya akan mengatakan bahwa Tuhan adalah getaran-getaran energi? Saya akan mengatakan bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sumber getaran-getaran energi tersebut, karena getaran energi adalah produk dari sumber yang menggetarkannya. Jika kemudian Tuhan adalah sumber energi dari subpartikel yang paling kecil, berarti Tuhan lebih kecil dari makhluk-Nya dong? Terus bagaimana analoginya?

Saya katakan bahwa Tuhan adalah sumber segala sumber getaran energi ini hanya untuk memudahkan pemahaman ketika Tuhan harus berdiri sendiri bebas dari segala bentuk pengaruh interpretasi makhluk, karena tak akan ada makhluk jika tidak ada sumber yang menciptakannya. Dikarenakan kondisi saat ini Tuhan telah menciptakan makhluk, maka keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari makhluk-Nya, tidak pula dikatakan lebih kecil dari makhluk walau dikatakan sumber getaran berada pada partikel subatomik.  Melainkan Ia merupakan bagian integral dari makhluk itu sendiri, hakikat ada adalah DIA, sehingga keberadaan Tuhan akan senantiasa menyertai gerak langkah setiap makhluk-Nya di manapun ia berada di semesta raya ini.

Untuk lebih memahaminya secara mendalam, setelah Tuhan menciptakan sub partikel atomik, maka ia bertanggung jawab atas segala keteraturan ciptaan-Nya, maka terciptalah hal-hal lain yang menyertai terciptanya materi berupa hal-hal yang tidak bisa diamati secara kasat mata, contohnya adalah timbulnya gaya sentripetal dan gaya sentrifugal yang menjaga subpartikel atomik berputar pada lintasannya.

Lantas bagaimana memahami Tuhan setelah Dia menciptakan makhluk? Tuhan adalah totalitas dari sebab akibat (causa prima), dalam hal ini, Tuhan adalah totalitas sumber dari segala sumber energi, energi, materi dan segala sesuatu yang ditumbulkan oleh materi dan energi, dan segala sesuatu yang melingkupi materi dan energi dimaksud, baik yang kasat mata maupun tak kasat mata, dan totalitas itulah yang dinamakan Tunggal.

Ini adalah permodelan miniatur, sekarang silahkan anda tarik ke objek yang paling besar (semesta raya) dan totalitas itulah disebut dengan Maha Tunggal.

Tak ada satupun makhluk di semesta ini yang tidak tersusun atas partikel atom dan subatom dan juga enegi, dari mulai makhluk hidup sampai benda mati, dan tak ada satupun partikel atom dan subatomik tersebut yang tidak digerakan oleh getaran-getaran energi, dan tak ada satupun getaran-getaran energi yang tidak memiliki sumber.

Bagian tubuhmu yang mana yang tidak tersusun atas susunan partikel subatomik?
Bagian laut terdalam mana yang tidak tersusun oleh materi/energi dimaksud?
Bagian langit yang kosong yang mana yang tidak ada materi/energi dimaksud?

Itulah jawaban dari statemen kuno “Tuhan ada di mana-mana, Tuhan lebih dekat dari urat lehermu”, dan inilah mungkin maksud dari konsep “Manunggaling Kaula-Gusti” Syekh Siti Jenar.

Jika Anda memiliki konsep Tuhan sebagaimana dimaksud, buat apa kita saling tuding salah/benar akibat belum ada kesamaan persepsi terhadap Tuhan? Bukan keberadaan dan bentuk Tuhan yang harus kita permasalahkan sekarang, tapi bagaimana kita selalu menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan mengamalkannya, karena hakikatnya itu adalah nilai Ketuhanan. Tuhan ada dalam diri setiap insan dan semua makhluk ciptaan-Nya.

Nabi Muhammad menyebut istilah Tuhan dengan sebutan “Allah”, Ajaran Sunda Wiwitan menyebutnya dengan istilah “Sang Hyang Kersa”. Anda menyebutnya dengan istilah apa?

by : Husnul Yakin Ali

Bagi Anda yang berminat mengutip sebagian atau seluruh isi artikel ini dipersilahkan, dengan tidak bermaksud riya, mohon dicantumkan sumber dan penulisnya.

Posted on Agustus 30, 2011, in 4. Pilsafat and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: