Pendekatan-pendekatan Teoretik-Etis Terhadap Bisnis

Secara hakiki, etika bisnis merupakan Applied Ethics atau etika terapan. Di sini, etika bisnis merupakan wilayah penerapan prinsip-prinsip moral umum pada wilayah tindak manusia di bidang ekonomi, khususnya bisnis. Jadi, secara hakiki sasaran etika bisnis adalah perilaku moral pebisnis sebagai insan yang berkegiatan ekonomis. Prinsip-prinsip moral tersebut  merupakan satu kesatuan utuh dan sistematis yang disebut dengan teori.

Beberapa prinsip atau teori yang erat kaitannya dengan pebisnis dan aktivitas bisnis adalah; teori kebahagiaan yang mencakup utilitarisme dan hedonisme etis, teori kewajiban atau deontologi, dan teori keutamaan atau virtues etics.

1.    Teori Kebahagiaan
Teori ini hendak menjawab persoalan pokok: Apa tujuan hidup manusia, dan apa prasyarat agar tujuan hidup tersebut dapat tercapai. Yang termasuk ke dalam teori kebahagiaan ini adalah Hedonisme dan Utilitarisme. Keduanya sependapat bahwa kebahagiaan merupakan satu-satunya tujuan hidup bagi semua manusia, maka prinsip pokok yang mendasari setiap perilaku manusia adalah bagaimana mencapai kebahagiaan sebagai satu-satunya tujuan hidup.

a.    Hedonisme

Hedonisme berasal dari kata Yunani, hedone = kenikmatan atau kegembiraan. Dengan singkat namun tegas, kaum hedonis merumuskan : “carilah nikmat dan hindari rasa sakit”.

Di satu sisi, sebagai teori etika hedonisme menegaskan, seseorang adalah baik jika berhasil menjauhi rasa sakit atau berhasil mendekatkan dirinya kepada kenikmatan maksimal dalam tindakan-tindakannya. Namun, si lain sisi, tindakan-tindakan yang dapat menghasilkan rasa nikmat maksimal itu justru tidak hanya tindakan-tindakan moral-etis. Dengan kata lain, bagaimana dengan tindakan-tindakan yang mendatangkan kenikmatan maksimal ternyata juga digerakkan oleh nafsu-nafsu irasional dalam diri seseorang?.

Menurut Epikuros (341-270 sM), ada tiga jenis keinginan dalam diri manusia yang dapat memotivasi seseorang untuk mengupayakan kenikmatan. Tiga keinginan itu adalah :

  1. Keinginan alamiah yang mutlak perlu, seperti keinginan untuk makan dan minum. Keinginan alamiah seperti ini selalu berhubungan dengan kebutuhan yang paling primer dari diri manusia.
  2. Keinginan alamiah yang dapat ditunda, misalnya keinginan untuk makan enak atau keinginan untuk mendapatkan televisi baru yang lebih canggih.
  3. Keinginan yang sia-sia atau keinginan yang belum pasti realisasinya, seperti ingin menjadi kepala negara atau ingin memiliki lukisan karya Leonardo da Vinci padahal menderita rabun mata.

Walaupun demikian, Epikuros mengakui, bahwa masih ada keinginan lain di atas keinginan yang bersifat mutlak, yakni keinginan rohani atau atraxia.

Bertolak dari persepsinya perihal keinginan rohani, Epikuros kemudian menganjurkan agar manusia selalu memandang kehidupan sebagai suatu keseluruhan yang terdiri dari masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang.

Keterbatasan Hedonisme

  • Sama sekali tidak cocok dengan pengalaman hidup konkret sebagian besar umat manusia saat ini. Sebagai contoh seorang kepala keluarga yang senang ketika menerima gaji, apakah serta merta ia selalu merasa senang ketika di tempat kerja?
  • Kaum hedonis langsung begitu saja mengidentikkan kenikmatan sebagai sesuatu yang secara moral baik, tanpa menjelaskan motif yang melatarbelakangi keinginan untuk mencari nikmat sebagai tujuan hidup.
  • Kaum hedonis menyamaratakan kadar kesenangan dan kenikmatan pada semua orang.

Implikasi hedonisme dalam kegiatan bisnis

Kenyataan aktual saat ini dengan cukup jelas menunjukkan bahwa bagi para pebisnis kontemporer tidak ada keinginan alamiah kedua sabagaimana yang terdapat dalam pembagian keinginan menurut Epikuros. Bahkan harus dikatakan bahwa bagi para pebisnis kontemporer semua keinginan sebagaimana digagas Epikuros telah menyatu dalam satu keinginan saja yang sekaligus mencirikan derap jelajah bisnis kontemporer, yakni meraup keuntungan sebesar-besarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Namun, meraup keuntungan sebesar-besarnya tidak boleh menghalakan segala macam cara untuk memperolehnya. Untuk itu, kaum hedonis menganjurkan agar manusia selalu bijaksana, seimbang, dan menguasai diri dalam mengupayakan kenikmatan. Menjalankan bisnis dengan bijaksana mengindikasikan bahwa para pebisnis selalu mendasarkan setiap keputusan dan kebijakan bisnis pada pertimbangan-pertimbangan yang tidak hanya luas tetapi juga kritis dan rasional. Sebelum memutuskan sesuatu, sebelum mengambil suatu kebijakan strategis pebisnis kontemporer semestinya secara realistik mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.

b.    Utilitarisme

Secara etimologis, Utilitarisme berasal dari kata utilis dalam bahasa Latin yang berarti berguna atau berfaedah. Menurut utilitarisme, suatu perbuatan atau tindakan adalah baik jikalau tindakan tersebut bermanfaat. Bermanfaat untuk siapa, dalam kondisi seperti apa? Kaum utilitarisme akan menjawab, suatu tindakan adalah baik jika berguna atau bermanfaat baik bagi si pelaku maupun bagi semua orang yang terkena dampak dari perbuatan atau tindakan itu.

Di satu pihak, utilitarisme masih melanjutkan paham hedonisme, khususnya hedonisme klasik, namun di lain pihak utilitarisme juga sudah melangkah lebih jauh meninggalkan hedonisme, khususnya hedonisme egois atau hedonisme psikologis.

Inti ajaran utilitarisme digagas pertama kali oleh filsuf Inggris Jeremy Bentham (1748-1832) yang ingin menegaskan bahwa kebahagiaan merupakan sasaran tujuan dari segala tindakan manusia, yakni dengan menghindari rasa sakit dan mendekatkan diri kepada rasa nikmat. Sebuah tindakan dikatakan secara moral baik jikalau tindakan tersebut menghasilkan lebih besar akibat baik yang membahagiakan sebanyak mungkin orang yang terkena dampak dari tindakan tersebut. Sementara John Stuart Mill (1806-1873) menegaskan bahwa suatu tutur atau tindakan adalah baik secara moral, jika menghasilkan lebih besar kebahagiaan daripada penderitaan. Hal itu harus diukur dari pengalaman semua orang yang melakukan tindakan tersebut, bukan dari satu orang yang terlibat dalam tindakan itu.

Keterbatasan Utilitarisme sebagai Teori Etika

  • Mengorbankan salah satu rasa keadilan, karena kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang banyak tidak berarti bahwa hal tersebut merupakan suatu tindakan yang adil.
  • Tidak menjamin hak-hak asasi manusia
  • Begitu saja mengidentikkan kesenangan dengan kebahagiaan, padahal secara substansial keduanya berbeda.
  • Pengukuran rasa nikmat atau rasa senang diukur secara kuantitatif, sehingga pengukuran suatu kebahagiaan atau kesenangan bagi jumlah orang banyak akan sulit dilakukan, karena kabahagiaan dan kesenangan merupakan kekhasan setiap orang, yang mana setiap orang akan memiliki kadar kebahagiaan dan kesenangan versinya masing-masing.

Berbisnis dalam konteks Utilitarisme

Meskipun utilitarisme mempunyai banyak kekurangan, namun prinsip dasar kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak dapat dijadikan pegangan dalam berbisnis, asalkan disertai dengan rasa keadilan dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, sehingga para pebisnis terhindar dari tindakan atau perilaku immoral.

2.    Deontologi

Deontologi berasal dari kata “deon” dari bahasa Yunani yang berarti kewajiban atau apa yang wajib dilakukan. Teori ini diajukan pertama kali oleh filsuf Jerman Immanuel Kant (1724-1904). Inti ajaran deontologi menurut Kant, yang disebut baik dalam arti yang sesungguhnya hanyalah “good will” atau kehendak baik. Jadi, good will merupakan satu-satunya hal yang baik pada dirinya sendiri. Hal-hal lain di luar good will hanya bisa dikatakan baik jika memenuhi persyaratan tertentu. Pada tataran ini, politik, bisnis, kepandaian, atau kekuasaan adalah baik jika dilaksanakan atau dipergunakan di atas dasar good will atau kehendak baik. Sebaliknya, tentu buruk karena tidak didasarkan pada kehendak baik.

Menurut Kant, kehendak itu menjadi baik, kalau yang menjadi dasar dari suatu tindakan adalah kewajiban. Penekanannya adalah bahwa suatu perbuatan secara moral adalah baik jikalau orang yang melakukannya menghormati atau menghargai hukum moral. Hukum moral dimaksud adalah seseorang berkehendak baik jika ia hanya menghendaki untuk melakukan yang wajib baginya.

Paling tidak ada tiga kemungkinan bagi seseorang untuk melakukan apa yang wajib baginya; Pertama, ia dapat memenuhi kewajibannya karena hal itu menguntungkan dirinya. Kedua, ia melaksanakan kewajibannya karena merasa ada dorongan langsung dalam dirinya untuk melakukan hal itu. Ketiga, ia melakukan kewajibannya karena ia mau memenuhi apa yang menjadi kewajibannya.

Menurut Kant, kemungkinan ketiga, yaitu melakukan kewajiban hanya untuk memenuhi apa yang menjadi kewajibannya itulah kehendak baik atau kehendak tanpa syarat.

Kant membedakan keharusan atau kewajiban ke dalam dua jenis. Pertama, imperatif hipotesis, yakni perintah atau keharusan bersyarat, misalnya kalau ingin mempunyai uang, bekerjalah. Kedua, imperatif kategoris atau perintah tanpa syarat. Tanpa syarat di sini berarti berlaku begitu saja, bersifat mutlak atau secara niscaya.

Bagi Kant, satu-satunya kriteria untuk kewajiban moral adalah “imperatif kategoris”, imperatif kategori berbunyi “Bertindaklah secara moral” Imperatif di sini berarti perintah yang bernada wajib (das Sollen), bukan permintaan.

Relevansi Deontologis Kant atas Bisnis Kontemporer

Untuk dapat menerapkan gagasan deontologi Kant, maka harus dibedakan antara pebisnis sebagai pengusaha yang baik dan pebisnis sebagai manusia yang baik.

Bagi para pebisnis kontemporer tentu tidak berlaku imperatif kategoris Kant, misalnya, jika menemukan karyawan atau buruh yang menderita dia wajib membantu. Pebisnis tentu tidak akan melakukan imperatif kategoris seperti ini karena dia atau mereka bukan dermawan, melainkan pebisnis yang selalu terikat dengan tujuan ekonomis bisnis. Bisnis tidak mengenal pembagian Cuma-Cuma.

Lain halnya jika pebisnis kontemporer sekaligus adalah manusia yang baik secara moral. Dia atau mereka tentu akan membantu orang-orang yang berada dalam kesusahan dengan harta dari hasil bisnisnya tanpa harus didorong oleh keinginan yang lain, misalnya ingin dipuji atau dihormati, melainkan ia menganggap bahwa membantu sesama yang membutuhkan adalah sebuah kewajiban.

3.    Etika Keutamaan

Kepribadian yang kuat dan mantap secara moral hanya dapat dicermati melalui sikap-sikap moral yang lazimnya dsebut “keutamaan moral”.
Sikap keutamaan moral diantaranya adalah:
a.   Kejujuran
b.   Kepercayaan
c.   Tanggung jawab
d.   Keberanian moral
e.   Fairness
f.    Realistik-kritis
g.   Rendah hati
h.   Hormat kepada diri sendiri dan diri-diri lainnya
i.    Kepedulian

Disarikan oleh Husnul Yakin Ali dari Buku Etika Bisnis Karya L. SINUOR YOSEPHUS

Posted on Mei 15, 2011, in 2. Sosial & Ekonomi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Saya memegang konsep bahwa bisnis adalah salah satu ibadah yang bertujuan seperti amal saleh lainnya “perlombaan untuk berkontribusi pada umat manusia”. Dengan konsep tersebut nilai-nilai universal melebur pada proses bisnis.
    Perusahaan yang sanggup memperthanklan kontribusinya pada umat manusia akan betahan dan memberikan keuntunga terbesar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: