Menyibak Tabir Illahi

Alam semesta ada dari ketiadaan, ia ada karena tercipta melalui suatu proses yang mengundang banyak ahli untuk merumuskannya. Sejauh ini banyak bermunculan teori tentang penciptaan alam semesta, salah satu yang banyak dianut adalah teori ledakan besar atau dikenal dengan “Big Bang”. Sejak terjadinya ledakan super dahsyat itu, alam semesta terbentuk dan mengembang melalui beberapa fase yang melibatkan ratusan bahkan ribuan proses fisika, kimia, biologi dan proses-proses lainnya. Diantara proses-proses yang dapat dilihat dan diamati secara indrawi oleh manusia selama ini dinamakan dengan proses ilmiah. Sementara proses yang belum dapat diamati dan dibuktikan secara secara indrawi oleh manusia masih merupakan suatu misteri, dan misteri inilah yang menantang umat manusia yang berfikir untuk senantiasa merenung dan bertafakur akan ciptaan dan keberadaan Sang Pencipta, karena salah satu sarana yang dapat dijadikan cara untuk mengenal sang Pencipta adalah melalui ciptaan-Nya.

Di sini saya tidak akan membahas lebih jauh tentang proses penciptaan alam semesta dan keberadaan Sang Pencipta. Namun, saya hanya akan menyumbangkan pemikiran tentang sebuah konsep menyingkap barang sedikit saja tentang misteri Illahi yang belum dapat dipecahkan melalui metode ilmiah.

Allah Swt. adalah Maha Kuasa atas semua ciptaannya, Ia lah yang menciptakan dari ketidak-adaan alam semesta dan menetapkan hukum yang berlaku universal untuk ciptaannya, dan sesekali Ia tidak pernah melanggar atas hukum yang telah digariskannya. Itulah mengapa dari partikel sub atomik hingga galaksi yang sangat besar dapat patuh berputar pada orbitnya tentunya atas perintah dan hukum Illahi Sang Pencipta yang Maha Agung.

Tak ada hukum alam yang tidak ditetapkan tanpa sepengetahuan-Nya, dan tidak ada pula makhluk yang bergerak sekehendak-hatinya melainkan atas izin-Nya. Oleh karenanya, seharusnya pula tak ada hukum alam yang bertentangan atas kejadian yang belum tersingkap oleh manusia selama ini. Manusia seharusnya pula tidak semena-mena mengatakan sesuatu yang tidak dan belum dapat diteliti secara indrawi secara umumnya merupakan hal yang tidak ilmiah, begitu pula dengan hal-hal yang diluar hukum fisika.

Sejauh ini, untuk membedakan hal atau kejadian yang dapat diteliti secara indrawi dan diluar indrawi batasannya adalah fisika dan metafisika. Kedua batasan ini bukanlah merupakan sekat, melainkan sesuatu yang saling berdampingan dan melengkapi menurut pandangan saya, oleh karenanya, tidak dapat pula kita menyatakan hal-hal yang berada dalam ranah metafisika merupakan hal yang tidak ilmiah. Masalahnya sekarang adalah, bisakah kedua hukum tersebut bersatu dan saling melengkapi? sementara saat ini kita melihat sepertinya hukum tersebut berjalan sendiri dan terpisah.

Alam semesta diciptakan oleh Dzat yang Maha Tunggal, dan Dia pulalah yang menetapkan hukum yang dapat berlaku kepada semua makhluk. Hukum tersebut telah terangkum semua dalam sebuah Mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Akhir Zaman Muhammad Saw. Hukum tersebut tiada lain terangkum dalam sebuah Kitab Suci bernama Al-Quran. Al-Quran tidak mengatur hanya satu makhluk, tapi ia merupakan pegangan umat akhir zaman dan mengatur pula hal-hal ghaib yang bersifat ghaib. Al-Quran-lah sumber hukum universal.

Manusia saat ini terbagi kedalam dua pemahaman dan dua kelompok besar dalam menganut aturan dan hukum alam semesta. Seperti yang telah disebutkan di atas, kelompok tersebut adalah yang berpegangan pada hal ilmiah yang dapat dibuktikan secara indrawi manusia pada umumnya dan yang berpegangan kepada hal tidak bersifat indrawi pada umumnya. Sering kita menamakan kedua kelompok tersebut dengan sebutan 1. Ilmuwan dan 2. Ahli Hikmah/ Paranormal. Padahal, telah disebutkan oleh penulis pula, bahwa sebetulnya dua hal tersebut seyogyanya bukan suatu perbedaan yang dapat memisahkan adanya hukum universal, namun seharusnya dapat dijadikan dua dasar untuk memahami hukum universal yang dapat berlaku pada kejadian dalam batas nalar dan di luar nalar.

Sejauh ini kedua kelompok tersebut bergerak sendiri-sendiri pada prinsip-prinsip hukum yang didalaminya, padahal, alangkah lebih baiknya mereka dapat menyatukan visi dan pandangan dan bekerja bersama untuk menyingkap tabir yang selama ini masih menjadi misteri Illahi.

Kenapa Kerajaan Ratu Balqis dapat berpindah dalam sekejap mata oleh seorang yang memiliki ilmu dan diizinkan oleh Allah, padahal kerajaan tersebut tersusun atas materi yang dapat diamati secara indrawi.

Bukankah seharusnya kita berfikir suatu saat nanti proses perpindahan suatu materi dari satu tempat ke tempat lainnya dapat dilakukan pula sekejap mata dengan melalui suatu konsep yang dapat dijabarkan secara ilmiah?

Wallahu a’lamu Bishowab..

Posted on Juli 22, 2010, in 4. Pilsafat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: