The sword is in my hand, or me is a sword?

Dalam keheningan malam, hatiku terbangun, pikiranku termangu. Secangkir kopi yang ku minum di sore hari, hanya membakar dalam di dadaku, membuat mata dan fikiranku menerawang jauh menembus batas keadaan. Seraya terdengar suara menghentakkan pikiranku, seolah menambah rangkaian kebetulan dalam fikiranku. Apakah memang semuanya terangkai begitu saja tanpa ada sekenario yang mengatur rangkaian demi rangkaian hingga membuatku terpaksa harus menghunus pedang yang seyogyanya kusarungkan? sementara rangkaian demi rangkaian memaksaku untuk menghunjamkan pedang itu tepat seperti yang diinginkan.

Kenapa pula harus ada episode kedua seolah dalam sebuah cerita seru, dan semuanya menginginkan aku memerankan lakon layaknya episode pertama. Bahkan ada pula yang memintaku lebih berperan tidak dengan naluri, melainkan dengan nalar hingga dipaksa aktingku layaknya film laga holywood dalam memainkan pedang yang akan membabat semua yang merintangi. Sesekali aku bilang iya, sesekali aku bilang tidak, hingga aku tak tahu harus berperan seperti apa.

Saat ini aku memerankan diriku sendiri, tidak memerankan orang lain dan tidak pula berusaha untuk menjadi Arnold Schwardzeneger. Aku dapat bebas mengambil peran yang kusuka, karena aku dapat berperan menjadi seorang director atau aktor yang berlaga lebih dari Arnold Schwardzeneger.

Jika aku dapat bebas memilih peran yang aku suka, lantas siapa director sesungguhnya jika aku memilih peran seorang director? Aku tak ingin directorku berasal dari sebangsaku!

Kuingin directorku adalah yang menggerakkan semua alam semesta, yang menggerakkanku, dan menggerakkan semua pemain dalam cerita kehidupanku.

Hingga kuingin…………
Semua peran yang kumainkan mendapat ridho dari-Nya………………..

Ya Allah…………. peran apa lagi yang harus hamba mainkan?……………………….
kenapa Kau membuat semua rangkaian-rangkaian itu seolah aku harus mengambil peran kembali seperti semula?………..

Ya Allah…………. ampunilah segala dosa dan kekhilafan hamba……………
Hamba ingin jika hamba harus berperan………. semua atas dasar ridho-Mu……………

Ya Allah…………. janganlah pula kau timpakan karma pada hamba dan keturunan-keturunan hamba, jika peranku harus menyakitkan yang lain, semata-mata atas titah dari-Mu, dan demi kebaikan khalayak yang mendambakan kesegaran cerita untuk kemaslahatan bersama.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am : 59)

Posted on Oktober 24, 2009, in 1. Curahan Hati and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: