Lembah Curam Berawan

Cliff in CloudsSaat ini aku berjalan menuju tepian lembah curam berawan yang di ujungnya tak terlihat pemandangan apa gerangan yang ada di sana.

Aku berjalan menyusuri padang yang padanya telah aku lalui tanah tandus, udara kering, hingga aku bertemu dengan sebiji tanaman yang telah berkecambah yang padanya hampir mati tak tersentuh perawatan. Aku bertanya, kenapa aku harus bertemu dengan sebiji tanaman ini? siapakah gerangan penanam biji ini? apakah ia terbawa angin hingga jatuh ke padang tandus, atau kah ia diturunkan oleh Tuhan dengan tiba-tiba untuk menghuni padang itu tanpa makna.

Tidak! sesekali aku bilang tidak, biji ini telah ditanam seseorang sebelum sempat padang ini menjadi tandus. Kurawat sebiji tanaman tersebut hingga padanya tumbuh menjadi tanaman meskipun susah sekali untuk menjadi subur. Walau demikian, tumbuhlah tunas-tunas baru, disusul dengan pertumbuhan daun dan cabang baru sehingga cukup untuk membuat teduh walau sedikit.

Seiring dengan tumbuh tingginya sebiji tanaman tersebut, berdatangan pulalah musyafir untuk berteduh di bawah si biji tanaman yang mulai nampak rindang. Dengan semakin besar dan mulai rindang berbuah, tak sedikit para musyafir berdatangan tidak hanya untuk berteduh, namun juga berupaya untuk menikmati buah si biji tanaman yang rasanya walau tak begitu manis namun dapat sedikit menyegarkan.

Tiba-tiba, di tengah keasyikanku memadu keharmonisan dengan si biji tanaman dan musyafir yang terus berdatangan, muncullah segerombolan yang mendaulat bahwa dialah pemilik si biji tanaman itu. Dengan begitu arogannya aku didesak untuk tidak lagi memadu keharmonisan yang lebih dengan si biji tanaman itu. Baiklah kamu menang! namun yang harus kalian ketahui, jiwa dan ragaku telah menyatu dengan sibiji tanaman ini, jiwaku adalah jiwanya, ragaku adalah raganya. Kau dapat memisahkanku dengan satu cara matikan aku, matilah dia.

Meski demikian, aku masih teramat sayang pada si biji tanaman ini, hingga tak rela jika dia mati. Untuk menghibur kekecewaanku, aku mulai berjalan menjauhi si biji tanaman itu secara perlahan hingga di tepian lembah curam berawan yang di ujungnya tak terlihat pemandangan apa gerangan yang ada di sana.

Aku tetap punya keyakinan, masih banyak biji tak bertuan yang belum ditanam yang membutuhkan sentuhan dan perawatanku, hingga aku dapat leluasa mengurus, membesarkan memberikan keteduhan dan kekenyangan kepada musyafir yang membutuhkan, hingga dapat diwariskan kepada keturunan-keturunanku.

Posted on Agustus 4, 2009, in 1. Curahan Hati and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: