Pengalaman berhargaku dalam bisnis MLM dan Referensi

Pagi tadi saya mendapat telepon dari seseorang. Panggilan yang masuk ternyata nomornya tidak terregister di HP saya, namun ketika si penelpon menyapa dengan kata Halo, saya agak ragu antara kenal suara itu dan tidak. Namun untuk memastikan, saya bertanya “dari siapa ini”, ternyata panggilan yang masuk lewat HP saya tersebut adalah orang yang sangat saya kenal dan saya ingat. Setelah saya bersalam sapa sejenak, saya tanyakan pula keperluannya. Dengan intonasi yang begitu semangat “beliau” (ya, memang usianya lebih cocok jadi bapak saya) hanya ingin memberitahukan, bahwa dirinya sedang menyaksikan vcd yang di dalamnya ada aksi saya sedang memberikan presentasi di hadapan 3000 audience lebih. Intonasi beliau sepertinya terkagum-kagum dan heran menyaksikan vcd yang walaupun kurang jelas, saya sangat menangkap suara saya dalam vcd tersebut.

Setelah beliau memberitahu bahwa ia sedang menyaksikan saya di dalam vcd, beliaupun menutup sapa lewat telepon. Dan dari nadanya, seolah-olah ia ingin berjumpa dengan saya secara langsung dan menyiratkan banyak hal yang ingin dipertanyakan kepada saya.

———————-***

Pada waktu itu tepatnya 2/3 menjelang akhir tahun 2006, saya diperkenalkan oleh teman saya pada sebuah bisnis yang mirip dengan bisnis multi level marketing. Tanggapan saya kala itu ketika pertama kali mendengarnya tidak begitu respon dan sangat tidak respon terhadap bisnis semacam itu. Teman saya itupun tidak begitu memaksakan program bisnis yang tengah digelutinya dan berlalu acuh tak acuh pula. Pada suatu minggu ketika saya berjumpa lagi dengannya, teman saya tersebut memperlihatkan SMS Banking dari nomor SMS Banking sebuah Bank yang lumayan mempunyai nama. Isi SMS tersebut menyebutkan bahwa telah terjadi penambahan saldo pada rekening teman saya tersebut yang nilainya kurang lebih 2 jutaan. Dengan SMS tersebut, saya tidak menunjukkan reaksi berlebihan, dan dianggap itu sebuah hal rayuan saja agar saya tergoda dengan bisnis barunya tersebut.

Pada satu kesempatan, saya dihubungi oleh teman saya tersebut yang menyatakan ia ingin bertemu saya pada hari, waktu dan tempat yang telah disepakati. Pada saatnya, saya pun memenuhi janji yang telah saya buat tersebut, datang ke sebuah tempat yang ternyata di tempat tersebut telah berkumpul banyak orang. Dari tempat dan banyaknya orang yang hadir, saya sudah menebak-nebak bahwa acara ini pasti sebuah rapat atau musyawarah.

Saya dan orang-orang yang telah dulu tiba pun dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan yang telah dipersiapkan. Acara pun dibuka dengan seseorang yang berpenampilan energik dan penuh semangat sehingga mengundang sambutan yang riuh rendah dari para hadirin dan menjadikan acara sangat meriah meskipun baru dibuka. Orang yang membuka acara tersebutpun dengan semangatnya memanggil seseorang yang akan berpresentasi menyampaikan maksud dan tujuan kenapa kami diundang dalam acara tersebut.

Yang dipanggilpun muncul dari belakang para hadirin dengan gaya yang tak kalah semangatnya dari pembuka acara. Presentasipun berjalan, walaupun dengan bahasa sederhana, ternyata presentasi tersebut sangat menarik dan mendapat sambutan hangat pula dari para hadirin. Dengan kesederhanaan bahasa dan presentasi yang disajikan secara sistematis, akhirnya semua hadirin terlihat mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti apa yang dipresentasikan, termasuk saya sendiri.

Acara hanya berlangsung tak lebih dari 2,5 jam. Selesai acara, saya jadi banyak berbincang dengan teman saya yang mengundang saya ke acara tersebut, menanyakan hal-hal yang sedikit kurang detail dan kurang jelas perihal isi presentasi dan program yang telah disampaikan.

Sayapun kembali ke rumah, dan tidak banyak bicara terhadap orang-orang yang ada di rumah saya. Saya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang bau keringat setelah seharian beraktivitas. Setelah menunaikan sholat Maghrib dan waktu Isyapun telah berlalu, malampun semakin larut. Namun ketika malam semakin larut, saya tidak juga mengantuk, yang ada hanya terasa pening di kepala, bukan pening karena sakit, namun karena pikiran ini yang terus bekerja memutar kepala untuk menemukan jawaban antara iya dan tidak percaya terhadap acara yang telah saya ikuti siang tadi, dan berpikiran iya dan tidak untuk bergabung dalam bisnis yang telah teman saya jalani, antara bagaimana dan kapan saya harus bergabung.

Singkat cerita, sayapun bergabung dengan bisnis yang telah teman saya jalani, walaupun harus menyediakan modal yang ukuran saya pada waktu itu sangat dan relative besar. Hari-haripun dilalui, saya berusaha untuk menjalankan bisnis tersebut sesuai dengan saran dan pengalaman para senior dalam bisnis tersebut, dan setelahnya saya bergabung, saya baru sadar pula bahwa pertemuan pada hari itu ternyata merupakan acara rutin dari bisnis yang baru saya jalani.

Minggu berlalu, ternyata diawal bisnis saya diberikan mudah dan seolah-olah mudah karena masih ditopang dan dibantu penuh oleh para senior, sehingga bonus yang dijanjikan dalam bisnis tersebut tidak lama saya dapatkan dan sayapun mengalami pula hal yang sama dengan teman saya yaitu mendapatkan SMS Banking yang menyatakan telah terjadi transaksi yang mengakibatkan saldo saya bertambah ke rekening saya. Di awal saya sangat senang, karena ternyata bisnis ini memang bukan omong kosong.

Bulan pun berlalu, sayapun masih bersemangat dalam bisnis baru yang tengah saya geluti, namun kali ini saya mulai merasakan kesulitan menjalankan bisnis ini, sehingga bonus yang saya dapatpun sangat tertinggal dengan  yang lain. Dalam kondisi seperti itu saya tetap menghibur diri, karena tak ada bisnis yang tanpa usaha, tak ada uang yang datang dengan sendirinya tanpa usaha. Sayapun belum patah semangat untuk bertempur, walaupun kala itu saya telah membuat analisa perhitungan antara bonus yang telah diraih dan operasional yang dikeluarkan ternyata tidak seimbang, lebih banyak operasional yang harus saya keluarkan.

Dengan masih semangatnya saya menggeluti bisnis itu, ternyata sayapun diberikan kesempatan oleh senior saya untuk memberikan presentasi di hadapan audience persis seperti presentasi yang dulu pertama kali saya baru mengenal bisnis ini. Presentasi dilangsungkan di tempat pertama dulu saya diundang untuk menghadiri pengenalan bisnis ini yang dihadiri oleh sekitar 30 orang audience. Tak saya sangka, ternyata audience dan para senior saya dalam bisnis tersebut terkagum-kagum dengan gaya presentasi yang saya bawakan, sehingga sambutan hangatpun terlontar dari para hadirin, dan ucapan selamatpun disampaikan oleh para senior setelah saya selesai memberikan presentasi.

Waktupun terus berlalu, minggu, bulan dan seterusnya, dan kondisi bisnis yang saya rasakan pun berjalan biasa saja tidak seperti pertama kali saya baru bergabung dengan bisnis itu. Namun untuk menjaga bahwa saya adalah seseorang yang pantang menyerah dalam berusaha, saya tetap berusaha menghormati dan menghargai setiap orang yang mengajak saya dan meminta kepada saya untuk menyampaikan presentasi bisnis.

Dengan kemampuan saya membawakan presentasi, para senior lebih tertarik kepada saya untuk membawakan presentasi program bisnis itu dalam setiap kesempatan acara dibanding dengan presentator lainnya, dan untuk menguji kemampuan saya tersebut, para senior meminta saya untuk membawakan presentasi  di acara pertemuan tingkat kabupaten.

Setiap presentasipun saya bawakan dengan gemilang, hingga pada suatu saat saya diminta untuk membawakan presentasi dalam sebuah acara Gebyar Bisnis yang akan dihadiri oleh Presdir bisnis itu dan dihadiri pula oleh 3000 audience lebih yang berasal dari dalam dan luar kota, terlebih saya mendengar pula akan dihadiri oleh audience di luar provinsi. “Waw, fantastic sekali”. Gumam saya waktu itu sambil memuji diri sendiri.

Sayapun akhirnya terlena dengan kemampuan presentasi saya tersebut, yang akhirnya bisnis pokok yang menjadi garapan saya dari program bisnis tersebut sedikit demi sedikit saya abaikan, dan sayapun acuh tak acuh dengan bisnisnya.

Acara gebyarpun dilaksanakan di sebuah tempat yang telah dipersiapkan. Dari kapasitas ruangan yang hanya dipersiapkan untuk 3000 orang ternyata tidak dapat menampung audience yang jauh diluar perkiraan. Acara pun berlangsung dengan meriah, dan sesuai rencana acara diabadikan dengan sebuah handycam untuk diburning dalam sebuah vcd. Presentasi yang saya bawakan mendapat sambutan yang hangat dari audience yang hadir, terlebih dihadiri oleh Presdir bisnis itu.

Acarapun selesai, banyak orang bersalam sapa ketika beramah tamah dengan saya di akhir acara itu. Saya merasa bahwa saya kini telah menjadi seorang yang sangat sukses. Jika ukuran sukses buat saya waktu itu adalah gaya saya dalam membawakan presentasi, memang saya dapat dikatakan orang yang sangat sukses, namun dalam batin saya kala itu, saya tidak bisa berkelit kalau ternyata saya juga belum sepenuhnya sukses terhadap bisnis yang sering saya presentasikan terhadap orang lain. Namun sebagai motivator, saya berusaha mendorong orang lain agar ikut pula merasakan keseusesannya.

——————-***

Karena latar belakang pendidikan saya adalah ilmu ekonomi, akhirnya saya membuat analisa terhadap bisnis yang saya geluti, dan dari analisa tersebut dihasilkan bahwa tetap tidak sebanding antara penghasilan yang saya terima dari bisnis itu dengan biaya operasional yang dikeluarkan, sehingga saya memutuskan untuk mundur secara teratur dalam bisnis itu.

Saya tidak memvonis bahwa saya gagal dalam bisnis itu, karena saya berhasil menjadikan diri saya eksis dalam komunitas bisnis tersebut. Saya tidak menyatakan bahwa saya rugi dalam bisnis itu, karena saya membuat analisa dan membuat keputusan tepat ketika saya belum mengalami banyak pengeluaran, dan tepat beberapa bulan sebelum bisnis tersebut akhirnya tenggelam.

Yang membuat geli saya saat ini adalah telepon yang saya terima pagi tadi dari seseorang yang sudah saya hapal dan sangat saya kenal. Ternyata dari acara Gebyar Bisnis itu, orang-orang tidak begitu saja dapat melupakan saya, dan mudah-mudahan saya dapat dikenang selamanya menjadi seorang yang sukses, sehingga terus menjadi motivasi saya untuk meraih apa yang saya cita-citakan.

Multilevel marketing, referensi, atau apapun itu yang namanya bisnis semacamnya, adalah sesuatu aktivitas yang memerlukan usaha, kerja keras kreativitas dan do’a, sama seperti bisnis/usaha lainnya yang memerlukan usaha, kerja keras, kreativitas dan doa. Dalam bisnis ini, tak jarang orang yang sukses, namun tak sedikit pula orang yang gagal seperti dalam bisnis lainnya.

Bisnis ini memerlukan usaha ekstra untuk meyakinkan seseorang, sehingga para pelakunya tak jarang terjebak dalam fanatisme untuk menutupi kekurangan dalam bisnis ini, sehingga terjebak pula dalam sindikat kebohongan upline dan menyusul para downline yang baru bergabung ke dalamnya. Bisnis yang bertujuan baik dan mempunyai sistem yang baik terkadang tidak membawa barokah apa-apa atas penghasilan yang kita dapatkan dalam bisnis itu jika cara yang kita lakukan melampaui batas kewajaran nurani kita. Maka, cepatlah membuat analisa dan keputusan bisnis jika nurani kita menyatakan ini tidak wajar.

Posted on Desember 19, 2008, in 8. Lain-Lain and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: