Ketika

Ketika angin tak lagi berhembus, pohon-pohon tak melambai, ombak samudra tak bergemuruh, burung camar tak dapat mengepakkan sayapnya, ikan tak dapat lagi berenang, kapal pesiar kehilangan arah, tak tahu arah tujuannya.

Ketika pelangi tak lagi berwarna, lampu lalu lintas tak lagi memberikan sinyal merah, kuning, hijau, jalanan tak bermarka, polisi kehilangan peluitnya, mobil-mobil beradu bertabrakan, sepeda motor bergelimpangan.

Ketika semua warna terlihat putih, lampu-lampu tak berwarna warni, suara gitar bak gendang, suara gendang tak karuan, tak ada lagi nada harmoni yang dapat terdengar merdu.

Keberagaman adalah anugrah, karenanyalah kita dapat menikmati keindahan dunia, angin bertiup sepoy-sepoy, disahut deru ombak yang menggelegar, kicauan burung camar menambah eloknya alam ini.

Perbedaan adalah fitroh yang Maha Kuasa, karenanyalah kita mengenal ayah, ibu, kakek, nenek, tetangga, sanak, saudara.

Tak mesti di dunia ini satu nada, satu suara, satu irama, karena tak akan terdengar musik harmonis yang elok mengalun ditelinga.

Posted on Desember 1, 2008, in 1. Curahan Hati and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Wah puitis banget. Tapi susah yah menghilangkan fanatisme.

  2. pa alamat blog saya sekarang di http://www.yanarip.co.cc terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: