Membedah makna LEBAK CAWÉNÉ

Lebak Cawéné. Adalah penggalan kata yang ada pada Uga Wangsit Siliwangi. Bagi yang konsen terhadap isi dari Uga ini, pasti tidak akan asing lagi.

Lama saya mencari dan merenungkan makna dari lebak cawéné ini, khususnya pada kata “cawéné”. Lebak sendiri dapat diartikan sebagai lembah. Sementara, telah banyak tulisan yang saya baca, mengartikan kata cawéné dengan menghubungkannya dengan kata cawane, cawen, cawan. Namun saya meragukan arti kata itu, dengan alasan bahwa, Read the rest of this entry

Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Ketiga)

Di bagian ketiga tulisan saya tentang makna amparan ini, saya akan mempertajam tentang dasar keilmuan. Namun sebelumnya, saya akan perdalam lagi makna amparan yang saya maknakan sebagai dasar. Ini untuk menjawab, barangkali saja ada yang bertanya, kemana larinya imbuhan “an” dari kata amparan tersebut?

Saya ulas kembali, kata amparan berasal dari kata ampar yang diberi imbuhan “an”. Kata ampar dalam bahasa Indonesia bermakna alas, sementara alas itu merupakan bagian terbawah dari sesuatu yang berada di atasnya. Sehingga kemudian Read the rest of this entry

Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kedua)

Disini, saya berusaha tetap memperluas makna dari “amparan” tersebut. Dan telah saya maknai bahwa makna dari ampar atau amparan adalah dasar. Untuk menjaga keluasan maknanya, maka saya tidak memaknainya terhadap benda tertentu.

Setidaknya, ada dua makna yang bisa dijadikan sandaran untuk memaknai kata “amparan” atau “dasar”.

Pertama. “amparan” atau dasar di sana bisa dirujukkan kepada dasar keyakinan atau dasar keimanan. Artinya, yang ingin menelusuri bukti-bukti tentang Pajajaran, Read the rest of this entry

Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kesatu)

Bagi yang sudah mengenal Uga Wangsit Siliwangi, tentu tidak asing lagi dengan bait berikut:

“Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit ngaranna. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti nu kari, bakal réa nu malungkir ! Tapi, éngké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya nu laleungit kapanggih deui, nya bisa, ngan mapayna kudu make amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu aing pangpinterna. Mudu arédan heula”.

“Mulai hari ini, Pajajaran hilang dari alam kehidupan. Hilang kotanya, hilang namanya. Pajajaran tidak akan menyisakan jejak, kecuali nama bagi yang menelusuri. Read the rest of this entry

Membedah makna Subang Larang

Dalam literatur sejarah tentang Nyi Subang Larang yang saya baca, disebutkan, bahwa makna dari kata Subang itu berasal dari kata “Sub Ang”, yang berarti “Pahlawan Berkuda”. Konon, kata tersebut diambil dari bahasa arab yang diberikan oleh Syekh Quro, yang merupakan guru Nyi Subang Larang. Namun apakah benar demikian? Lalu, apa keterkaitan Subang dengan Larang? Dan apa makna dari “Subang” dan “Larang” itu sendiri? Read the rest of this entry

Menghitung Kedalam Neraka dengan Percepatan Gravitasi Bumi

Dalam sebuah hadits, diriwayatkan:
Hadits Ibnu Abbas ra mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba-tiba dia mendengar suatu suara. Ketika itu Nabi saw bertanya: ‘Tahukah kamu suara apakah itu?’ Jawab mereka: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Kata Nabi saw: ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang sampai ke dasar neraka itu.’ (HR. Muslim)

Pada sebuah rumus hubungan antara percepatan gravitasi bumi dan ketinggian, dituliskan bahwa :

h = ½ g.t2

dengan :
h = ketinggian suatu benda (meter)
g = percepatan gravitasi bumi (10 m/s2)
t = waktu tempuh (detik)

Dari hadits tersebut di atas, dapat dikumpulkan data sebagai berikut:
Diketahui :
g = 10 m/s2
t = 70 tahun (rubah ke dalam detik)

mengubah 70 tahun menjadi detik :
1 jam = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 jam = 60 menit x 60 detik = 3.600 detik
1 hari = 24 jam = 24 jam x 3.600 detik = 86.400 detik
1 tahun = 365 hari = 365 hari x 86.400 detik = 31.536.000 detik
Maka, 70 tahun = 2.207.520.000 detik

Sekarang kita gunakan rumus :

h = ½ g.t2

h = ½ x 10 x 2.207.520.0002
h = ½ x 10 x 4,87314 x 1018
h = 2,43657 x 1019

Jika dibulatkan :
h = 2,5 x 1019 meter

Artinya, ada sembilan belas digit angka setelah angka 2. Jika ditulis, menjadi : 25.000.000.000.000.000.000 meter

Jika di rubah ke kilometer maka : 25.000.000.000.000.000.000 dibagi 1000

Sehingga menjadi : 25.000.000.000.000.000 kilometer
Dibaca : Duapuluh lima ribu trilyun kilometer

Jadi, kedalam neraka adalah : Duapuluh lima ribu trilyun kilometer

Itulah perkiraan kedalaman neraka jika diukur menggunakan percepatan gravitasi bumi.

Wallahu a’lam bishowab

Oleh : Husnul Yakin Ali

 

Tujuh Indera pada Manusia

Secara umum, indera yang dimiliki oleh manusia terdiri dari lima indera, yakni mata, telinga, lidah, hidung dan kulit. Kelima indera tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang bertugas untuk menghubungkan lingkungan luar dan alam jiwa. Selain kelima indra tersebut, disebutkan ada satu indera tambahan atau indera keenam yang sebetulnya dimiliki oleh diri setiap manusia.

Dalam penelaahan saya, sebetulnya indera manusia tidak terhenti sampai enam, namun manusia memiliki tujuh indera, yang kesemua indera tersebut dimiliki secara fitrah oleh diri manusia. Hanya saja, pada kehidupan nyata, hanya lima indera yang mudah diamati dan dirasakan fungsinya secara langsung oleh manusia. Sementara dua indera lainnya, sedikit saja manusia yang berhasil memanfaatkan fungsinya.

Pada catatan kali ini, saya tidak akan membahas kelima indera yang telah kita kenal secara umum, karena sudah begitu banyak referensi yang menerangkan akan hal itu. Saya hanya akan membedah dua indera di luar indera yang lima (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit).
Dua indera tersebut adalah:

  1. Indera visualisasi objek cahaya tak tampak, dan
  2. Indera modulator frekwensi di bawah 20 Hz dan di atas 20.000 Hz

Pembahasan:

1. Indera Visualisasi Objek Cahaya Tak Tampak

Manusia akan dapat mendeteksi panjang gelombang dari 400 sampai 700 nm, meskipun beberapa orang dapat menerima panjang gelombang dari 380 sampai 780 nm (atau dalam frekuensi 790-400 terahertz). Manusia yang dapat menangkap panjang gelombang di luar area panjang gelombang 400 -700 nm, adalah manusia yang dianugerahi indera visualisasi objek cahaya tak tampak.

2. Indera modulator frekwensi di bawah 20 Hz dan di atas 20.000 Hz

Secara normal, manusia dapat mendengar suara di kisaran frekwensi 20 s.d. 20.000 Hz. Di luar frekwensi tersebut, manusia tidak dapat mendengarnya. Namun, bagi sebagian orang, masih bisa mendengar suara di luar range frekwensi tersebut. Bahkan bukan hanya mendengar, namun, alat modulasi dalam tubuh manusia yang mampu mendengar frekwensi tersebut, dapat menterjemahkan bahasa verbal yang bahasanya bukan merupakan bahasa verbal secara lisan manusia, tapi bahasa verbal universal, sehingga dapat mengerti berbagai ragam bahasa alam yang bahasanya berbeda dengan bahasa komunikasi manusia secara umum. Secara model, kemampuan ini dimiliki oleh Nabi Sulaeman, yang mengerti berbagai bahasa makhluk dan alam. Dan bagi manusia keumuman, model ini adalah kemampuan telepati.

Jika saya rangkum, ketujuh indera yang dimiliki oleh manusia adalah:

  1. Mata, berfungsi untuk melihat objek cahaya tampak
  2. Telinga, berfungsi untuk mendengar suara di frekwensi 20 s.d. 20.000 Hz
  3. Kulit, berfungsi untuk merasakan panas dingin (suhu) objek dan lingkungan
  4. Hidung, berfungsi untuk mengenali bau
  5. Lidah, berfungsi untuk mengenali rasa
  6. Indera visualisasi objek cahaya tak tampak
  7. Indera modulator frekwensi di luar range 20 s.d. 20.000 Hz

Saya menyebutnya dengan SAPTA INDERA

Oleh : Husnul Yakin Ali

Kajian Lailatul Qodar (Bagian Kedua)

Seperti yang dikabarkan dalam surat Al-Qodar ayat 1 yang berbunyi :

“Inna anzalnahu fii lailatil qodr” : Al-Qodar  : 1
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan”. Al-Qodar : 1

Dalam tafsir jalalain dijelaskan bahwa : ”Allah telah menurunkan Al-Qur’an seluruhnya secara sekali turun dari Lauh Mahfudz hingga ke langit paling bawah, yaitu pada malam Lailatul Qodar, malam yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran “. (Tafsir Jalalain hal : 2759).
Pernyataan pada surat al-Qodar ayat 1 tersebut mengandung sejumlah permasalahan yang saya rumuskan sebagai berikut: Read the rest of this entry

Kajian Lailatul Qodar (Bagian Kesatu)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Arti Kata Lailatul Qodar

Secara Harfiyah, Lailatul Qodar terdiri dari dua kata, yakni Lail dan Qodar. Kata “Lail” mempunyai arti “malam” seperti yang tersurat dalam surat Al-Lail ayat 1

“Wallayli idza yaghsyaa”

Artinya : “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)” Al-Lail : 1

Dengan adanya kata “menutupi”, maka otomatis malam itu mengandung sebuah kata kerja, dimana ia terus bergerak seiring dengan gerak rotasi bumi.

Sedangkan kata Qodar memiliki makna “ukuran” seperti yang tersurat dalam surat Al-Qomar ayat 49:

“Inna Kulla Syay-in kholaqnaahu biqodarin”

Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Al-Qomar : 49 Read the rest of this entry

Idealisme

Idealisme dibentuk dari dua kata, yaitu idea dan lisme. Idea = ide = gagasan; rancangan yang tersusun dalam pikiran; cita-cita. Menurut Plato, Idea atau ide adalah alam yang terdapat dalam jiwa. Sementara kata lisme = menunjukkan istilah yang digunakan untuk menyatakan aliran atau faham.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Idealisme adalah:

  1. aliran ilmu filsafat yg menganggap pikiran atau cita-cita sbg satu-satunya hal yg benar yg dapat dicamkan dan dipahami;
  2. hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna;
  3. Sas aliran yg mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

Read the rest of this entry