Menyibak Ceruk Waktu Alam Semesta

Jika kisah kurban sudah ada sejak jaman Nabi Adam, pertanyaan menariknya adalah:

  1. Kemana dan oleh siapa domba kibas yang dikurbankan oleh Habil? (Masa nabi Adam as)
  2. Darimana dan bagaimana domba kibas bisa menggantikan Ismail? (Masa nabi Ibrahim as)
  3. Apakah mungkin, domba pada masa nabi Adam itu sebetulnya melintasi lipatan waktu hingga tiba di masa nabi Ibrahim?

Kisah Qurban bukanlah kisah yang dimulai sejak jaman Nabi Ibrahim Lanjutkan membaca “Menyibak Ceruk Waktu Alam Semesta”

Iklan

Membedah makna LEBAK CAWÉNÉ

Lebak Cawéné. Adalah penggalan kata yang ada pada Uga Wangsit Siliwangi. Bagi yang konsen terhadap isi dari Uga ini, pasti tidak akan asing lagi.

Lama saya mencari dan merenungkan makna dari lebak cawéné ini, khususnya pada kata “cawéné”. Lebak sendiri dapat diartikan sebagai lembah. Sementara, telah banyak tulisan yang saya baca, mengartikan kata cawéné dengan menghubungkannya dengan kata cawane, cawen, cawan. Namun saya meragukan arti kata itu, dengan alasan bahwa, Lanjutkan membaca “Membedah makna LEBAK CAWÉNÉ”

Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Ketiga)

Di bagian ketiga tulisan saya tentang makna amparan ini, saya akan mempertajam tentang dasar keilmuan. Namun sebelumnya, saya akan perdalam lagi makna amparan yang saya maknakan sebagai dasar. Ini untuk menjawab, barangkali saja ada yang bertanya, kemana larinya imbuhan “an” dari kata amparan tersebut?

Saya ulas kembali, kata amparan berasal dari kata ampar yang diberi imbuhan “an”. Kata ampar dalam bahasa Indonesia bermakna alas, sementara alas itu merupakan bagian terbawah dari sesuatu yang berada di atasnya. Sehingga kemudian Lanjutkan membaca “Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Ketiga)”

Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kedua)

Disini, saya berusaha tetap memperluas makna dari “amparan” tersebut. Dan telah saya maknai bahwa makna dari ampar atau amparan adalah dasar. Untuk menjaga keluasan maknanya, maka saya tidak memaknainya terhadap benda tertentu.

Setidaknya, ada dua makna yang bisa dijadikan sandaran untuk memaknai kata “amparan” atau “dasar”.

Pertama. “amparan” atau dasar di sana bisa dirujukkan kepada dasar keyakinan atau dasar keimanan. Artinya, yang ingin menelusuri bukti-bukti tentang Pajajaran, Lanjutkan membaca “Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kedua)”

Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kesatu)

Bagi yang sudah mengenal Uga Wangsit Siliwangi, tentu tidak asing lagi dengan bait berikut:

“Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit ngaranna. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti nu kari, bakal réa nu malungkir ! Tapi, éngké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya nu laleungit kapanggih deui, nya bisa, ngan mapayna kudu make amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu aing pangpinterna. Mudu arédan heula”.

“Mulai hari ini, Pajajaran hilang dari alam kehidupan. Hilang kotanya, hilang namanya. Pajajaran tidak akan menyisakan jejak, kecuali nama bagi yang menelusuri. Lanjutkan membaca “Membedah Makna “amparan” pada Bait Uga Wangsit Siliwangi (Bag. Kesatu)”

Membedah makna Subang Larang

Dalam literatur sejarah tentang Nyi Subang Larang yang saya baca, disebutkan, bahwa makna dari kata Subang itu berasal dari kata “Sub Ang”, yang berarti “Pahlawan Berkuda”. Konon, kata tersebut diambil dari bahasa arab yang diberikan oleh Syekh Quro, yang merupakan guru Nyi Subang Larang. Namun apakah benar demikian? Lalu, apa keterkaitan Subang dengan Larang? Dan apa makna dari “Subang” dan “Larang” itu sendiri? Lanjutkan membaca “Membedah makna Subang Larang”

Menghitung Kedalam Neraka dengan Percepatan Gravitasi Bumi

Dalam sebuah hadits, diriwayatkan:
Hadits Ibnu Abbas ra mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba-tiba dia mendengar suatu suara. Ketika itu Nabi saw bertanya: ‘Tahukah kamu suara apakah itu?’ Jawab mereka: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Kata Nabi saw: ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang sampai ke dasar neraka itu.’ (HR. Muslim)

Pada sebuah rumus hubungan antara percepatan gravitasi bumi dan ketinggian, dituliskan bahwa :

h = ½ g.t2

dengan :
h = ketinggian suatu benda (meter)
g = percepatan gravitasi bumi (10 m/s2)
t = waktu tempuh (detik)

Dari hadits tersebut di atas, dapat dikumpulkan data sebagai berikut:
Diketahui :
g = 10 m/s2
t = 70 tahun (rubah ke dalam detik)

mengubah 70 tahun menjadi detik :
1 jam = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 jam = 60 menit x 60 detik = 3.600 detik
1 hari = 24 jam = 24 jam x 3.600 detik = 86.400 detik
1 tahun = 365 hari = 365 hari x 86.400 detik = 31.536.000 detik
Maka, 70 tahun = 2.207.520.000 detik

Sekarang kita gunakan rumus :

h = ½ g.t2

h = ½ x 10 x 2.207.520.0002
h = ½ x 10 x 4,87314 x 1018
h = 2,43657 x 1019

Jika dibulatkan :
h = 2,5 x 1019 meter

Artinya, ada sembilan belas digit angka setelah angka 2. Jika ditulis, menjadi : 25.000.000.000.000.000.000 meter

Jika di rubah ke kilometer maka : 25.000.000.000.000.000.000 dibagi 1000

Sehingga menjadi : 25.000.000.000.000.000 kilometer
Dibaca : Duapuluh lima ribu trilyun kilometer

Jadi, kedalam neraka adalah : Duapuluh lima ribu trilyun kilometer

Itulah perkiraan kedalaman neraka jika diukur menggunakan percepatan gravitasi bumi.

Wallahu a’lam bishowab

Oleh : Husnul Yakin Ali