Arti Penting Pendampingan dalam PKH


Ini adalah sepotong catatan saya sebagai Pekerja Sosial Pendamping Program Keluarga Harapan, memverfikasi kehadiran anak-anak peserta PKH yang tergolong dalam Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) pada fasilitas kesehatan dan pendidikan. Saya mengawali kunjungan verifikasi ke fasilitas-fasilitas kesehatan yang dijadikan sarana untuk RTSM memeriksakan kondisi kesehatannya, setelah itu saya mengunjungi fasilitas pendidikan yang juga tempat anak-anak para RTSM bersekolah.

Hal yang menarik dalam aktifitas yang saya lakukan sekitar dua minggu yang lalu itu adalah ketika saya berkunjung ke fasilitas pendidikan (Sekolah Dasar), karena saya menemukan anak RTSM yang dalam administrasi sekolah telah 3 bulan berturut-turut tidak masuk sekolah. Hal ini tentu sangat mengejutkan bagi saya, dan guru di sekolah itu pun tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut kenapa anak tersebut sampai tidak hadir 3 bulan berturut-turut.

Untuk mengklarifikasi kehadiran anak tersebut saya beranjak mengunjungi ketua kelompok PKH untuk selanjutnya mengunjungi orang tua dari anak dimaksud.

Saya sempat terenyuh ketika melihat kondisi rumah RTSM yang saya kunjungi, karena kondisi rumah seperti itu persis menggambarkan keadaan rumah orang tua saya ketika saya masih kecil. Saya bergumam dalam hati, ternyata masih ada dan bahkan banyak masyarakat yang belum menikmati kesejahteraan dasar di masa sekarang ini. Rumah tersebut berada di pinggiran sawah yang ketika harus masuk melewati gang, sepeda motor saya pun tidak bisa mengakses langsung, karena kondisi jalan yang becek-becek dan masih berupa tanah. Dinding rumah hanya terbuat dari bilik bambu yang sudah mulai bolong-bolong, tak ada kaca menutupi jendela, hanya potongan-potongan bambu yang dipaku ke bingkai jendela. Lantai rumah asli tanah yang dipadatkan, pintu rumah pun sudah terlihat mulai rapuh.

Ketika saya memulai salam dan masuk ke dalam rumah, terdapat 3 orang yang sudah lanjut usia, 1 balita dan 1 anak yang berseragam SMP. Mereka menyambut saya dengan ramah dan mempersilahkan saya duduk pada satu kursi plastik yang hanya satu-satunya di ruangan tamu yang sekaligus dijadikan ruang makan dan keluarga pada rumah yang hanya berukuran sekitar 6×6 meter tersebut.

Tak lama berselang setelah saya duduk hampir 5 menit, seorang wanita setengah baya datang sambil membawa 2 minuman teh dalam botol dan kue untuk disuguhkan kepada saya dan ketua kelompok yang mendampingi saya. Ternyata orang tua tersebut adalah orang tua dari anak yang akan saya klarifikasi kehadirannya di sekolah dasar.

Setelah sedikit beramah tamah, saya pun memulai pembicaraan pokok, saya menanyakan kenapa anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar tidak bersekolah selama 3 bulan berturut-turut. Ia menjelaskan bahwa ketika itu ia terpaksa harus mendaftar untuk menjadi TKW ke luar negeri, karena bantuan yang diterima dari program PKH masih jauh dari cukup untuk membiayai hidup keluarganya. Selama proses menunggu di penampungan TKI di Jakarta, tidak ada yang mengawasi anak-anaknya terlebih mengantar-jemput anaknya yang bersekolah di kelas 1 SD, sehingga si anak tidak bersekolah. Bahkan salah satu anaknya yang masih balita dibawa kabur oleh orang tuanya yang mengalami gangguan kejiwaan yang saat itu juga hadir di ruangan tempat saya berbincang.

Namun, katanya bahwa kini ia mengurungkan niatnya menjadi TKW, karena satu dan lain hal, dan berjanji untuk menyekolahkan kembali anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar. Saya pun merasa lega, karena disinilah pokok dari tugas saya menjadi pendamping sosial pada PKH, yakni terus memberikan dorongan dan semangat kepada RTSM agar mereka tetap mau menyekolahkan anaknya dan membawa anak yang masih balita ke posyandu.

Saya menyadari, masih banyak keluarga RTSM yang lainnya yang belum dapat disentuh oleh program, dan tidak ada pendampingan kepada mereka. Sehingga tidak ada yang terus memberikan semangat dan dorongan ketika anaknya harus putus sekolah selamanya karena kondisi sosial ekonomi mereka.

Oleh : Husnul Yakin Ali
Pendamping Sosial PKH Kab. Subang Jawa Barat 

About these ads

3 thoughts on “Arti Penting Pendampingan dalam PKH

  1. saya seneng pak nya memiliki jiwa yang arib,,bener bener melakukan tanggung jawab dengan tulus,,semangt terus ya mas

  2. bohong kalau PKH merupakan program yang bagus pkh hanyalah pengganti BLT hanya 10 peserta pkh yang mampu dan bisa terentas dari kemiskinan karena pola pikir masyarakat miskin, dan pendamping PKH tidk bisa menyentuh roh dari PKH itu sendiri mereka hanya melakukan verivikasi, memutakiran data, dan pekerjaan lain yang hanya akan membuat RTSM semakin tergantung dengan program ini PKH adalah salah satu ciri dari sistem neo politik liberalisme di negara ini yang hanya memberi bantuan pada yang miskin tanpa harus bersusah payah memberi solusi pekerjaan yang pasti bgi mereka bahkan dibanyak kabupaten pekerjaan pendamping PKH hanya di jadikan pekerjaan sampingan tanpa tanggung jawab pengentasan kemiskinan yang sejatinya menjadi roh dari program ini selain itu karena amburadulnya sistem administrasi dinegara ini banyak peserta yang seharusnya tidak masuk di program ini atau sebaliknya dan pemerintah akan berdalih kalau kemiskinan saat ini tidak berubah maka dalih yang paling pas untuk ini karena PKH bukan program jangka pendek tetapi anak-anak mereka yang diharapkan terentas dari belenggu kemiskinan, bayngkan apa yang bisas diperbuat dijaman sekarang apabila anak kita lulusan SMP, itu semua omong kosong dan hanya retorika dari liberalisme modern, salam semoga para pendamping dan pekerja PKH dapat berfikr lebih jernih amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s