Apa yang mendasari tulisan dan pemikiran saya kali ini, sehingga menuliskan judul seperti itu? sementara mungkin Anda masih berpikir bahwa yang pantas menyandang itu semua adalah Dia Yang Maha Haq.
Pada tulisan kali ini saya ingin menujukkan kepada Anda bahwa sesungguhnya Kebenaran memiliki banyak dimensi, tergantung pada dimensi mana Anda memandangnya. Jika Anda baru bisa memandang judul di atas dipenuhi dengan rasa sinisme dan cibiran, Anda mungkin salah satu orang yang masih berdiri pada satu dimensi kebenaran, untuk itu, simpanlah dulu kata sesat, kafir, dan sejenisnya sebelum memvonis seseorang dengan kata-kata dimaksud.
Selama ini kita mungkin hanya berpatokan bahwa Tuhan adalah Sosok Yang Maha Ghaib, sementara telah nyata dan jelas bahwa selain Maha Ghaib, Tuhan adalah Sosok Yang Maha Wujud dan Maha Nyata. Maksud yang ingin saya sampaikan di sini, bahwa Ke-Maha Wujudan Tuhan dan Ke-Maha Nyataan Tuhan tidaklah berlaku hanya pada tataran sifat dan keghaiban-Nya, melainan berlaku pada semua tataran dan dimensi yang ada. Jika kita memandang bahwa Ke-Maha Wujudan Tuhan hanyalah sebuah sifat dan hanya berlaku pada tataran Ghaib, maka dimana letak Maha-Nya? karena kalau hanya berlaku pada tataran sifat dan ghaib, Tuhan tidak akan berdaya pada tataran wujud fisik realitas, sehingga gugurlah gelar Maha-Nya, dan yang ada dalam benak pikiran kita, hanyalah sosok Tuhan yang Imajiner, padahal Tuhan bukanlah Sosok yang Imajiner, Ia-lah Sosok Maha Wujud, Maha Nyata, bukan Imajiner.
Lantas, bagaimana kita bisa memahami jika Ke-Maha-Wujudan-Nya tidak hanya berlaku pada tataran Sifat? Kunci untuk menjawab itu semua kita harus berusaha “mengetahui dan faham” apa yang dimaksud dengan zat-Nya.
“Mengetahui dan faham zat-Nya? rasanya tidak mungkin deh”.
Oh ya? barangkali itu hanya menurut pemikiran Anda saja saat ini, padahal sangat nyata dan jelas zat-Nya nampak di hadapan Anda.
“Yang mana?”
Anda belum bisa melihatnya juga? Oke, sekarang, tamparlah pipi Anda, apa yang Anda rasakan? sakit? ya itulah zat-Nya.
“Apa, pipi saya adalah zat-Nya?”
ya… pipi Anda adalah zat-Nya, jika pipi Anda dan diri Anda adalah bukan zat-Nya, lantas zat milik siapa itu? Anda merasa mempunyai zat itu? dari mana asal zat yang ada di pipi Anda itu?
Anda belum paham juga? oke saya sederhanakan, Zat-Nya, berarti Zat-milik-Nya, karena kata “Nya” adalah kata ganti kepunyaan, seperti “Apakah sepatu ini milik si Pulan? Ya, ini adalah sepatu-nya” sekarang, coba kita terapkan pada pertanyaan-pertanyaan saya di atas “Apakah zat yang ada pada pipi Anda adalah milik Tuhan? Ya, zat yang ada di pipi anda adalah zat-Nya”
Lantas? Itulah hakikat bahwa Anda tidak memiliki apapun, Anda dan juga saya hanyalah zat-Nya, Zat-Nya Yang Maha Wujud dalam tataran fisik realitas yang tidak kekal. Sementara pemiliknya Ia-lah Zat Maha Wujud dalam tataran Wujud yang Hakiki (Ghaib).
Wallahu a’lam bishowab
Oleh : Husnul Yakin Ali